BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Penyakit
kardiovaskular merupakan penyebab terbanyak dari kematian penduduk dunia, salah
satunya disebabkan oleh kelainan katup jantung. Penyakit katup jantung antara
lain adalah stenosis (membuka tidak sempurna) dan insufisiensi (menutup
tidak sempurna), ini dapat terjadi baik pada katup arteroventrikular maupun
katup semilunar. Stenosis Katup Aorta (Aortic Stenosis) adalah penyempitan pada
lubang katup aorta, yang menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah
dari ventrikel kiri ke aorta. ( Nuzulul, 2011 )
Di
Amerika Utara dan Eropa Barat, stenosis katup aorta merupakan penyakit utama
pada orang tua, yang merupakan akibat dari pembentukan jaringan parut dan
penimbunan kalsium di dalam daun katup. Stenosis katup aorta seperti ini timbul
setelah usia 60 tahun, tetapi biasanya gejalanya baru muncul setelah usia 70-80
tahun. Di wilayah lainnya, kerusakan katup akibat demam rematik masih sering
terjadi. ( Nuzulul, 2011 )
Untuk
mengatasi penyakit ini, medikasi dan pembedahan/ insisi adalah upaya yang
terbaik. Dengan demikian, katup yang mengalami kelainan itu dapat disembuhkan
ataupun dikurangi risiko tinggi semakin parahnya penyakit. Dalam makalah ini
akan dibahas lebih lanjut mengenai Asuhan Keperawatan pada Klien dengan
Stenosis Aorta.
1.2 Rumusan Masalah
1.2.1 Bagaimana konsep tentang Stenosis
aorta ?
a.
Bagaiaman anatomi dan fisiologi dari
jantung ?
b.
Bagaimana
definisi dari Stenosis aorta ?
c.
Bagaimana
etiologi Stenosis aorta ?
d.
Bagaimana
patofisiologi Stenosis aorta ?
e.
Bagaimana
manifestasi klinis Stenosis aorta ?
f.
Bagaimana
pemeriksaan diagnostik stenosis aorta ?
g.
Bagaimana
penatalaksanaan Stenosis aorta ?
h.
Bagaimana
komplikasi Stenosis aorta ?
i.
Bagaimana
Prognosis Stenosis aorta ?
1.2.2
Bagimana
asuhan keperawatan klien dengan Stenosis aorta ?
1.3 Tujuan
1.3.1 Tujuan umum
a.
Memahami
konsep tentang Stenosis Aorta.
b.
Memberikan
asuhan keperwatan pada klien dengan Stenosis aorta.
1.3.2 Tujuan khusus
a.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang definisi Stenosis aorta.
b.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang etiologi Stenosis aorta.
c.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang patofisiologi Stenosis aorta.
d.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang manifestasi klinis Stenosis aorta.
e.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang pemeriksaan diagnostik stenosis aorta.
f.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang penatalaksanaan Stenosis aorta.
g.
Mahasiswa
dapat menjelaskan tentang komplikasi Stenosis aorta.
h. Mahasiswa dapat menjelaskan tentang
asuhan keperawatan pada klien Stenosis aorta.
BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
2.1 Anatomi
Fisiologi Jantung

Anatomi
fisiologi jantung diawali dengan letak jantung itu
sendiri. Letak jantung kita adalah terdapat dalam rongga dada manusia. Jantung
berada di dalam thorax, antara kedua paru – paru dan di belakang sternum serta
lebih menghadap ke kiri. Kedudukannya yang tepat dapat digambarkan pada kulit
dada manusia. Sebuah garis yang ditarik dari tulang rawan iga ketiga kanan, 2
sentimeter dari sternum, ke atas ke tulang rawan iga kedua kiri, 1 sentimeter
dari sternum, menunjuk kedudukan basis jantung, tempat pembuluh darah masuk dan
keluar. Berat organ jantung adalah berkisar 250-300 gram dan ukuran jantung
adalah sebesar kepalan tangan. Ini adalah kurang lebih dari pengertian jantung
itu sendiri.
Lapisan
jantung itu sendiri terdiri dari Perikardium, Miokardium, dan Endokardium.
Miokardium adalah Lapisan otot jantung yang menerima darah dari arteri
koronaria. Sedangkan miokardium adalah bagian dinding dalam atrium diliputi oleh
membran yang mengkilap dan terdiri dari jaringan endotel atau selaput lender
yang licin kecuali aurikula dan bagian depan sinus vena kava.
Organ
jantung terdiri atas 4 ruang, yaitu 2 ruang yang berdinding tipis disebut
dengan atrium (serambi), dan 2 ruang yang berdinding tebal yang disebut dengan
ventrikel (bilik). Atrium dan ventrikel jantung ini masing-masing akan
dipisahkan oleh sebuah katup, sedangkan sisi kanan dan kiri jantung akan
dipisahkan oleh sebuah sekat yang dinamakan dengan septum.
Septum
atau sekat ini adalah suatu partisi otot kontinue yang mencegah percampuran
darah dari kedua sisi jantung. Pemisahan ini sangat penting karena separuh
jantung kanan menerima dan juga memompa darah yang beroksigen rendah sedangkan
sisi jantung sebelah kiri adalah berfungsi untuk memompa darah yang beroksigen
tinggi. Dan fungsi katup jantung dalam hal ini adalah terutama agar darah yang
telah terpompa tersebut tidak kembali masuk ke dalam lagi.
Sirkulasi
darah jantung dan juga cara kerja
jantung itu harus terdiri dari tiga komponen penting. Komponen yang
memegang peranan penting dalam menjalankan fungsi dan kerja jantung terdiri
dari :
- Jantung sendiri yang mempunyai fungsi sebagai pompa yang melakukan tekanan terhadap darah agar timbul gradien dan darah dapat mengalir ke seluruh tubuh.
- Pembuluh darah yang mempunyai fungsi sebagai saluran untuk mendistribusikan darah dari jantung ke semua bagian tubuh dan mengembalikannya kembali ke dalam jantung sendiri.
- Darah yang mempunyai fungsi sebagai medium transportasi dimana darah akan membawa oksigen dan nutrisi.
2.1.1
Ruang Jantung
Jantung
terdiri dari beberapa ruang jantung yaitu atrium dan ventrikel yang
masing-masing dari ruang jantung tersebut dibagi menjadi dua yaitu atrium kanan
kiri, serta ventrikel kiri dan kanan.
a. Atrium.
Berikut fungsi dari masing-masing atrium jantung tersebut yaitu :
Berikut fungsi dari masing-masing atrium jantung tersebut yaitu :
1. Atrium
kanan berfungsi sebagai penampungan (reservoir) darah yang rendah oksigen dari
seluruh tubuh. Darah tersebut mengalir melalui vena kava superior, vena kava
inferior, serta sinus koronarius yang berasal dari jantung sendiri. Kemudian
darah dipompakan ke ventrikel kanan dan selanjutnya ke paru. Atrium kanan
menerima darah de-oksigen dari tubuh melalui vena kava superior (kepala dan
tubuh bagian atas) dan inferior vena kava (kaki dan dada lebih rendah). Simpul
sinoatrial mengirimkan impuls yang menyebabkan jaringan otot jantung dari
atrium berkontraksi dengan cara yang terkoordinasi seperti gelombang. Katup
trikuspid yang memisahkan atrium kanan dari ventrikel kanan, akan terbuka untuk
membiarkan darah de-oksigen dikumpulkan di atrium kanan mengalir ke ventrikel
kanan.
2. Atrium
kiri menerima darah yang kaya oksigen dari kedua paru melalui 4 buah vena
pulmonalis. Kemudian darah mengalir ke ventrikel kiri dan selanjutnya ke
seluruh tubuh melalui aorta. Atrium kiri menerima darah beroksigen dari
paru-paru melalui vena paru-paru. Sebagai kontraksi dipicu oleh node sinoatrial
kemajuan melalui atrium, darah melewati katup mitral ke ventrikel kiri
b. Ventrikel.
Berikut adalah fungsi dan manfaat ventrikel yaitu :
Berikut adalah fungsi dan manfaat ventrikel yaitu :
1. Ventrikel
kanan menerima darah dari atrium kanan dan dipompakan ke paru-paru melalui
arteri pulmonalis. Ventrikel kanan menerima darah de-oksigen sebagai kontrak
atrium kanan. Katup paru menuju ke arteri paru tertutup, memungkinkan untuk
mengisi ventrikel dengan darah. Setelah ventrikel penuh, mereka kontrak.
Sebagai kontrak ventrikel kanan, menutup katup trikuspid dan katup paru
terbuka. Penutupan katup trikuspid mencegah darah dari dukungan ke atrium kanan
dan pembukaan katup paru memungkinkan darah mengalir ke arteri pulmonalis
menuju paru-paru.
2. Ventrikel
kiri menerima darah dari atrium kiri dan dipompakan ke seluruh tubuh melalui
aorta. Ventrikel kiri menerima darah yang mengandung oksigen sebagai kontrak
atrium kiri. Darah melewati katup mitral ke ventrikel kiri. Katup aorta menuju
aorta tertutup, memungkinkan untuk mengisi ventrikel dengan darah. Setelah
ventrikel penuh, dan berkontraksi. Sebagai kontrak ventrikel kiri, menutup
katup mitral dan katup aorta terbuka. Penutupan katup mitral mencegah darah
dari dukungan ke atrium kiri dan pembukaan katup aorta memungkinkan darah
mengalir ke aorta dan mengalir ke seluruh tubuh.
2.1.2
Siklus Jantung
Berikutnya
adalah mengenai hal yang berhubungan dengan siklus organ jantung. Siklus
jantung termasuk dalam bagian dari fisiologi jantung itu sendiri. Jantung
ketika bekerja secara berselang-seling berkontraksi untuk mengosongkan isi
jantung dan juga berelaksasi dalam rangka mengisi darah kembali. Siklus jantung
terdiri atas periode sistol (kontraksi dan pengosongan isi) dan juga periode
diastol (relaksasi dan pengisian jantung). Atrium dan ventrikel mengalami
siklus sistol dan diastol terpisah. Kontraksi terjadi akibat penyebaran
eksitasi (mekanisme listrik jantung) ke seluruh jantung. Sedangkan relaksasi
timbul setelah repolarisasi atau tahapan relaksasi dari otot jantung
2.1.3
Peredaran Jantung
Peredaran
jantung itu terdiri dari peredaran darah besar dan juga peredaran darah kecil.
Darah yang kembali dari sirkulasi sistemik (dari seluruh tubuh) masuk ke atrium
kanan melalui vena besar yang dikenal sebagai vena kava. Darah yang masuk ke
atrium kanan berasal dari jaringan tubuh, telah diambil O2-nya dan ditambahi
dengan CO2. Darah yang miskin akan oksigen tersebut mengalir dari atrium kanan
melalui katup ke ventrikel kanan, yang memompanya keluar melalui arteri
pulmonalis ke paru. Dengan demikian, sisi kanan jantung memompa darah yang
miskin oksigen ke sirkulasi paru. Di dalam paru, darah akan kehilangan CO2-nya
dan menyerap O2 segar sebelum dikembalikan ke atrium kiri melalui vena
pulmonalis.
Darah
kaya oksigen yang kembali ke atrium kiri ini kemudian mengalir ke dalam
ventrikel kiri, bilik pompa yang memompa atau mendorong darah ke semus sistim
tubuh kecuali paru. Jadi, sisi kiri jantung memompa darah yang kaya akan O2 ke
dalam sirkulasi sistemik. Arteri besar yang membawa darah menjauhi ventrikel
kiri adalah aorta. Aorta bercabang menjadi arteri besar dan mendarahi berbagai
jaringan tubuh.
2.1.4
Katup Jantung
Katub
jantung ini terdiri dari 4 yaitu :
1. Katup
Trikuspidalis. Katup trikuspidalis berada diantara
atrium kanan dan ventrikel kanan. Bila katup ini terbuka, maka darah akan
mengalir dari atrium kanan menuju ventrikel kanan. Katup trikuspid berfungsi
mencegah kembalinya aliran darah menuju atrium kanan dengan cara menutup pada
saat kontraksi ventrikel. Sesuai dengan namanya, katup trikuspid terdiri dari 3
daun katup.
2. Katup
Pulmonal. Setelah katup trikuspid tertutup, darah akan
mengalir dari dalam ventrikel kanan melalui trunkus pulmonalis. Trunkus pulmonalis
bercabang menjadi arteri pulmonalis kanan dan kiri yang akan berhubungan dengan
jaringan paru kanan dan kiri. Pada pangkal trunkus pulmonalis terdapat katup
pulmonalis yang terdiri dari 3 daun katup yang terbuka bila ventrikel kanan
berkontraksi dan menutup bila ventrikel kanan relaksasi, sehingga memungkinkan
darah mengalir dari ventrikel kanan menuju arteri pulmonalis.
3. Katup
Bikuspid (Bikuspidalis). Katup bikuspid atau katup
mitral mengatur aliran darah dari atrium kiri menuju ventrikel kiri.
Seperti katup trikuspid, katup bikuspid menutup pada saat kontraksi ventrikel.
Katup bikuspid terdiri dari dua daun katup
4. Katup
Aorta. Katup aorta terdiri dari 3 daun katup yang
terdapat pada pangkal aorta. Katup ini akan membuka pada saat ventrikel kiri
berkontraksi sehingga darah akan mengalir keseluruh tubuh. Sebaliknya katup
akan menutup pada saat ventrikel kiri relaksasi, sehingga mencegah darah masuk
kembali kedalam ventrikel kiri.
2.2 Definisi
Stenosis
Katup Aorta (Aortic Stenosis) adalah penyempitan pada lubang katup aorta, yang
menyebabkan meningkatnya tahanan terhadap aliran darah dari ventrikel kiri ke
aorta (Stewart WJ and Carabello BA, 2002: 509-516).
Aortic
stenosis adalah penyempitan abnormal dari klep (katup) aorta (aortic valve).
Sejumlah dari kondisi-kondisi menyebabkan penyakit yang berakibat pada
penyempitan dari klep aorta. Ketika derajat dari penyempitan menjadi cukup
signifikan untuk menghalangi aliran darah dari bilik kiri ke arteri-arteri,
yang mengakibatkan persoalan-persoalan jantung berkembang. (Otto,CM,Aortic,
2004;25:185-187).
Stenosis
Katup Aorta adalah suatu penyempitan atau penyumbatan pada katup aorta.
Penyempitan pada Katup aorta ini mencegah katup aorta membuka secara maksimal
sehingga menghalangi aliran darah mengalir dari jantung menuju aorta. Dalam
keadaan normal, katup aorta terdiri dari 3 kuncup yang akan menutup dan membuka
sehingga darah bisa melewatinya.
Pada stenosis katup aorta, biasanya
katup hanya terdiri dari 2 kuncup sehingga lubangnya lebih sempit dan bisa
menghambat aliran darah. Akibatnya ventrikel kiri harus memompa lebih kuat agar
darah bisa melewati katup aorta.
2.3 Etiologi
Penyebab atau etiologi dari
stenosisi ini bisa bermacam-macam. Namun yang paling sering adalah RHD
(Rheumatic Heeart Disease) atau yang biasa kita kenal dengan demam rematik.
Berikut etiologi stenosis katup aorta lebih lengkap :
a. Kelainan kongenital
Tidak banyak bayi lahir dengan
kelainan kongenital berupa penyempitan katup aorta . sedangkan sebagian kecil
lainnya dilahirkan dengan katup aorta yang hanya mempunyai dua daun (normal
katup aorta terdiri dari tiga daun). Pada katup aorta dengan dua daun dapat
tidak menimbulkan masalah atauupun gejala yang berarti sampai ia dewasa
dimana katup mengalami kelemahan dan penyempitan sehingga membutuhkan
penanganan medis. Beberapa factor yang mempengaruhi terjadinya kelainan
kongenital adalah genetic, ibu yang mal nutrisi saat hamil, ibu hamil yang
perokok dan alkoholisme, selain itu juga dengan ibu hamil yang terkena infeksi.
b. Penumpukan kalsium pada daun katup
Seiring usia katup pada jantung
dapat mengalami akumulasi kalsium (kalsifikasi katup aorta). Kalsium merupakan
mineral yang dapat ditemukan pada darah. Seiring dengan aliran darah yang
melewati katup aorta maka menimbulkan akumulasi kalsium pada katup jantung yang
kemudian dapat menimbulkan penyempitan pada katup aorta jantung. Oleh karena
itulah stenosis aorta yang berasla dari proses kalsifikasi banyak terjadi pada
lansia di atas 65 tahun, namun gejalanya beru timbul saat klien berusia 70
tahun.
c. Demam rheumatic
Komplikasi dari demam rematik adalah
adanya sepsis atau menyebarnya kuman atau bakteri melalui aliran darah ke
seluruh tubuh sehingga menyebabkan sampainya kuman datau bakteri tersebut ke jantung.
Saat kuman tersebut mencapai katup aorta maka terjadilah kematian jaringan pada
katup aorta. Jaringan yang mati ini dapat menyebabkan penumpukan kalsium yang
dikemudian hari dapat menyebabkan stenosis aorta. Demam reumatik dapat
menyebabkan kerusakan pada lebih dari satu katup jantung dalam berbegai cara.
Kerusakan katup jantung dapat berupa ketidakmampuan katup untuk membuka atau
menutup bahkan keduanya.
2.4 Patofisiologi
Ukuran normal orifisium aorta 2-3 cm2.
Stenosis aorta menyebabkan tahanan dan perbedaan tekanan selama sistolik antara
ventrikel kiri dan aorta. Peningkatan tekanan ventrikel kiri menghasilkan
tekanan yang berlebihan pada ventrikel kiri, yang dicoba diatasi dengan
meningkatkan ketebalan dinding ventrikel kiri (hipertrofi ventrikel kiri).
Pelebaran ruang ventrikel kiri terjadi sampai kontraktilitas miokard menurun.
Tekanan akhir diastolik ventrikel kiri meningkat. Kontraksi atrium menambah
volume darah diastolik ventrikel kiri. Hal ini akan mengakibatkan pembesaran
atrium kiri. Akhirnya beban ventrikel kiri yang terus menerus akan menyebabkan
pelebaran ventrikel kiri dan menurunkan kontraktilitas miokard. Iskemia miokard
timbul timbul akibat kurangnya aliran darah koroner ke miokard yang
hipertrofi.
Area katup aorta normal berkisar 2-4cm2,Gradien
ventrikel kiri dengan aorta mulai terlihat bila area katup aorta <1.5cm2.
Bila area katup mitral <1cm2,maka stenosis aorta sudah disebut
berat. Kemampuan adaptasi miokard menghadapi stenosis aorta meyebabkan
manifestasi baru muncul bertahun tahun kemudian. Hambatan aliran darah pada
stenosis katup aorta(progressive pressure overload of left ventricle akibat
stenosis aorta) akan merangsang mekanisme RAA(Renin-Angiotensin-Aldosteron)
beserta mekanisme lainnya agar miokard mengalami hipertrofi. Penambahan massa
otot ventrikel kiri ini akan menigkatkan tekanan intra-ventrikel agar dapat
melampaui tahanan stenosis aorta tersebut dan mempertahankan wall stress yang
normal berdasarkan rumus Laplace: Stress= (pressurexradius): 2xthickness.
Namun bila tahanan aorta
bertambah,maka hipertrofi akan berkembang menjadi patologik disertai penambahan
jaringan kolagen dan menyebabkan kekakuan dinding ventrikel,penurunan cadangan
diastolic, penigkatan kebutuhan miokard dan iskemia miokard . Pada akhirnya
performa ventrikel kiri akan tergangu akibat dari asinkroni gerak dinding
ventrikel dan after load mismatch. Gradien trans-valvular menurun, Tekanan
arteri pulmonalis dan atrium kiri meningkat menyebabkan sesak nafas. Gejala
yang mentolok adalah sinkope, iskemia sub-endokard yang menghasilkan
angina dan berakhir dengan gagal miokard (gagal jantung kongestif). Angina
timbul karena iskemia miokard akibat dari kebutuhan yang meningkat hipertrofi
ventrikel kiri, penurunan suplai oksigen akibat dari penurunan cadangan
koroner, penurunan waktu perfusi miokard akibat dari tahanan katup aorta. Sinkop
umumnya timbul saat aktifitas karena ketidak mampuan jantung memenuhi
peningkatan curah jantung saat aktifitas ditambah dengan reaksi penurunan
resistensi perifer. Aritmia supra maupun ventricular, rangsangan baroreseptor
karena peningkatan tekanan akhir diastolik dapat menimbulkan hipotensi dan
sinkop.
Gangguan fungsi diastolic maupun sistolik ventrikel kiri
dapat terjadi pada stenosis aorta yang dapat diidentifikasi dari pemeriksaan
jasmani,foto toraks dan enongkatan Peptida Natriuretik. Hipertrofi ventrikel
akan menigkatkan kekakuan seluruh dinding jantung. Deposisi kolagen akan
menambah kekauan miokard dan menyebabkan gisfungsi diastolik. Setelah penebalan
miokard maksimal, maka wall stress tidak lagi dinormalisasi sehingga terjadi
peninggian tekanan diastolic ventrikel kiri menghasilkan penurunan fraksi
ejeksi dan penurunan curah jantung yang disebut sebagai disfungsi sistolik
2.5
Manifestasi Klinik
Stenosis katup aorta dapat terjadi
dari tahap ringan hingga berat. Tipe gejala dari stenosis katup aorta
berkembang ketika penyempitan katup semakin parah. Regurgitasi katup aorta
terjadi secara bertahap terkadang bahkan tanpa gejala hal ini dikarenakan
jantung telah dapat mengkompensasi penurunan kondisi katup aorta. Berikut
manifestasi klinis dari stenosis katup aorta :
a. Nyeri dada
Nyeri dada
adalah gejala pertama pada sepertiga dari pasien-pasien dan akhirnya pada
setengah dari pasien-pasien dengan aortic stenosis. Nyeri dada pada
pasien-pasien dengan aortic stenosis adalah sama dengan nyeri dada (angina)
yang dialami oleh pasien-pasien dengan penyakit arteri koroner (coronary artery
disease). Pada keduanya dari kondisi-kondisi ini, nyeri digambarkan sebagai
tekanan dibahwah tulang dada yang dicetuskan oleh pengerahan tenaga dan
dihilangkan dengan beristirahat. Pada pasien-pasien dengan penyakit arteri
koroner, nyeri dada disebabkan oleh suplai darah yang tidak cukup ke otot-otot
jantung karena arteri-arteri koroner yang menyempit. Pada pasien-pasien dengan
aortic stenosis, nyeri dada seringkali terjadi tanpa segala penyempitan dari
arteri-arteri koroner yang mendasarinya. Otot jantung yang menebal harus
memompa melawan tekanan yang tinggi untuk mendorong darah melalui klep aortic
yang menyempit. Ini meningkatkan permintaan oksigen otot jantung yang melebihi
suplai yang dikirim dalam darah, menyebabkan nyeri dada (angina).
b.
Pingsan (syncope)
Pingsan (syncope) yang berhubungan
dengan aortic stenosis biasanya dihubungkan dengan pengerahan tenaga atau
kegembiraan. Kondisi-kondisi ini menyebabkan relaksasi (pengenduran) dari
pembuluh-pembuluh darah tubuh (vasodilation), menurunkan tekanan darah. Pada
aortic stenosis, jantung tidak mampu untuk meningkatkan hasil untuk mengkompensasi
jatuhnya tekanan darah. Oleh karenanya, aliran darah ke otak berkurang,
menyebabkan pingsan. Pingsan dapat juga terjadi ketika cardiac output berkurang
oleh suatu denyut jantung yang tidak teratur (arrhythmia). Tanpa perawatan yang
efektif, harapan hidup rata-rata adalah kurang dari tiga tahun setelah
timbulnya nyeri dada atau gejala-gejala syncope.
c. Sesak napas
Sesak nafas dari gagal jantung
adalah tanda yang paling tidak menyenangkan. Ia mencerminkan kegagalan otot
jantung untuk mengkompensasi beban tekanan yang ekstrim dari aortic stenosis.
Sesak napas disebabkan oleh tekanan yang meningkat pada pembuluh-pembuluh darah
dari paru yang disebabkan oleh tekanan yang meningkat yang diperlukan untuk
mengisi ventricle kiri. Awalnya, sesak napas terjadi hanya sewaktu aktivitas.
Ketika penyakit berlanjut, sesak napas terjadi waktu istirahat. Pasien-pasien
dapat menemukannya sulit untuk berbaring tanpa menjadi sesak napas (orthopnea).
Tanpa perawatan, harapan hidup rata-rata setelah timbulnya gagal jantung yang
disebabkan oleh aortic stenosis adalah antara 6 sampai 24 bulan.
2.6 Pemeriksaan
Diagnostik
a.
Electrocardiogram
(EKG)
EKG adalah suatu perekaman dari
aktivitas elektrik jantung. Pola-pola abnormal pada EKG dapat mencerminkan
suatu otot jantung yang menebal dan menyarankan diagnosis dari aortic stenosis.
Pada kejadian-kejadian yang jarang, kelainan konduksi elektrik dapat juga
terlihat.
Terdapat
tanda-tanda hipertrofi ventrikel kiri, peningkatan voltase QRS, serta vektor T
terletak 180 dari vektor QRS. Juga dapat terdapat gambaran kelainan atrium kiri
(hipertrofi ventrikrl kiri; cacat hantaran).

b.
Chest
x-ray
Chest x-ray (x-ray dada) biasanya
menunjukan suatu bayangan jantung yang normal. Aorta diatas klep aortic
seringkali membesar. Jika gagal jantung hadir, cairan di jaringan paru dan
pembuluh-pembuluh darah yang lebih besar di daerah-daerah paru bagian atas
seringkali terlihat.
Dilatasi
pasca stenosis pada aorta asendens (akibat trauma lokal ejeksi darah bertekanan
tinggi yang mengenai dinding aorta); kalsifikasi katup (paling baik diamati
dari lateral atau oblik).

c.
Echocardiography
Echocardiography menggunakan
gelombang-gelombang ultrasound untuk memperoleh gambar-gambar (images) dari
ruang-ruang jantung, klep-klep, dan struktur-struktur yang mengelilinginya. Ini
adalah suatu alat non-invasive yang berguna, yang membantu dokter-dokter
mendiagnosa penyakit klep aortic. Suatu echocardiogram dapat menunjukan suatu
klep aortic yang menebal dan kalsifikasi yang membuka dengan buruk. Ia dapat
juga menunjukan ukuran dan kefungsian dari ruang-ruang jantung. Suatu teknik
yang disebut Doppler dapat digunakan untuk menentukan perbedaan tekanan pada
setiap sisi dari klep aortic dan untuk menaksir area klep aortic.

d.
Cardiac
catheterization
Cardiac catheterization adalah
standar emas dalam mengevaluasi aortic stenosis. Tabung-tabung plastik berongga
yang kecil (catheters) dimasukan dibawah tuntunan x-ray ke klep aortic dan
kedalam ventricle kiri. Bersama tekanan-tekanan diukur pada kedua sisi dari
klep aortic. Kecepatan dari aliran darah diseluruh klep aortic dapat juga
diukur menggunakan suatu kateter khusus.

2.7 Penatalaksanaan
Tidak ada
pengobatan medikamentosa untuk Stenosis Aorta asimtomatik, tetapi begitu timbul
gejala seperti sinkop, angina atau gagal jantung segera harus dilakukan operasi
katup, tergantung pada kemampuan dokter bedah jantung. Dapat dilakukan
reparasi(repair) atau replace(mengganti katup dengan katup artificial).
Penderita asimtomatik perlu dirujuk untuk pemeriksaan Doppler-Ekokardiografi.
Trans-valvular velocity lebih dari 4m/detik dianjurkan untuk menjalani operasi.
Selama katup aorta masih dalam tingkatan perkembangan, sulit memberikan nasihat
operasi yang dapat dipertanggung jawabkan. Komisurotomi sederhana biasanya
kurang menolong. Penyempitan katup bawaan begitu keras, sehingga dengan
melebarkan saja tidak dapat diharapkan hasil yang memuaskan. Penggantian katup
harus dipertimbangkan. Disinilah letak kesukarannya untuk penggantian katup
dengan profesa masih sangat mengerikan.
Hal ini
merupakan salah satu alasan mengapa indikasi operasi pada anak dan remaja jika
terdapat perbedaan tekanan lebih dari 70 mmHg pada katup yang menyempit. Dari
pihak lain tantangan terhadp anggapan tersebut bahwa stenosis aorta
membahayakan kehidupan. Pembatasan aktifitas serta larangan berolahraga
terpaksa diharuskan, tetapi kemudian akan mengakibatkan hal-hal yang tidak
diinginkan dalam proses perkembangan rohani dan jasmani. Pada saat ini masih
masih tidak diketahui dengan pasti nasib katup buatan tersebut. Lebih mudah
menentukan sikap pada kelainan stenosis subvalvular dari pada membran murni,
yaitu dengan membelah membran diperoleh hasil optimal. Lebih sukar lagi dari
pada stenosis supavalvular yang mortalitas tinggi.
Sekarang
terdapat teknik baru, yakni melebarkan daerah yang menyempit dengan kateter
yang dilengkapi dengan balon. Cara ini dilaporkan cukup efektif, meskipun
kemungkinan terjadinya penyempitan kembali sering.
Berikut
bebearpa cara penatalaksanaan yang dapat dilakukan antara lain:
a. Teknik nonsurgical (tanpa tindakan
operatif)

Operasi
katup jantung atau perbaikan katup jantung merupakan pilihan terapi dari terapi
kelainan katup jantung. Yang biasa di lakukan membelah dinding dada tengah kini
bila dilakukan dengan tidak membelah dada bagian tengah tetapi dengan lewat
samping sela iga ke empat atau kelima sebelah kanan pasien akan lebih cepat
merasakan sakit hilang karena tidak ada tulang yang di belah memeperkecil
resiko sayatan. Ketika katup jantung menjadi rusak atau terjadi suatu kelainan,
sehingga tidak berfungsi. Kondisi ini dapat menyebabkan ganguan pada katup
seperti valvular stenosis dan valvular insufficiency (regurgitation). Ketika
satu atau lebih katup jantung menjadi stenosis, otot jantung akan bekerja keras
untuk memompa darah melewati katup.
Penyebab
katup menjadi stenosis termasuk infeksi ( seperti rheumatic fever
atauinfeksistapiphylococcus ) dan aging. Seandainya satu atau lebih katup
menjadi insufficient ( bocor), darah yang bocor akan kembali, dimana sedikit
darah yang dipompakan. Penderita yang mengalami kelainan katup jantung ini
membutuhkan perbaikan dengan bedah.
Perbaikan
atau penggantian katup jantung pada bedah jantung terbuka, dimana dada dibuka
dan jantung dihentikan beberapa waktu ketika ahli bedah memperbaiki atau
mengganti katup jantung yang rusak dan digantikan fungsinya oleh cardio
pulmonary bypass machine ( mesinjantung – paru ). Meminimalkan invasive prosedur
dengan insisi yang kecil akan mengurangi nyeri post operasidan lama perawatan
di rumahsakit. Valvuli plasty merupakan salah satu metode yang digunakan untuk
terapi kelainan katup jantung pada beberapa kasus.
- Balloon Valvuloplasty (valvulotomy).

Seringnya tindakan yang
bertujuan untuk membenarkan kembali katup tanpa menggantinya merupakan tindakan
yang paling sering digunakan. Balloon valvuloplasty dilakukan dengan kateter
tipis dan lembut yang ujungnya diberi balon yang dapat dikembangkan ketika
mencapai katup. Balon yang mengembang tersebut akan menekan katup yang
menyempit sehingga dapat terbuka kembali dan memungkinkan darah dapat mengalir
dengan normal kembali. Balon valvuloplasty merupakan salah satu cara untuk
menyembuhkan stenosis katup aorta beserta manifestasi klinis yang timbul
karenanya terutama efektif pada infant dan anak-anak. Bagaimanapun juga pada
dewasa metode ini tidak selalu berhasil karena stenosis dapat muncul kembali
setelah dilakukan balon valvuloplasty. Oleh karena alasan di atas, untuk
penyembuhan stenosis katup aorta pada dewasa jarang dilakukan balon
valvuloplasty terkecuali pada klien yang tidak memungkinkan untuk dilakukan
operasi penggantian katup atau valvuloplasty.
c. Percutaneous aortic valve
replacement.

Percutaneous aortic valve
replacement atau Penempatan kembali katup aorta percutan merupakan
penatalaksanaan yang tersering yang dilakukan pada klien dengan stenosis katup
aorta. Pendekatan terbaru dengan metode ini memungkinkan untuk melakukan metode
ini dengan menggunakan kateter. Metode ini dilakukan jika terjadi pada klien
dengan resiko tinggi timbulnya komplikasi dari stenosis katup aorta
d. Pembedahan katup aorta dilakukan
dengan beberapa metode antara lain :
1. Penempatan kembali katup aorta.

Metode
ini merupakan metode primer untuk menangani kasus stenosis katup aorta.
Pembedahan dilakukan dengan mengambil katup yang rusak dengan katup mekanik
baru atau bagian dari jaringan katup. Katiup mekanik terbuat dari metal, dapat
bertahan lama tetapi dapat pula menyebabkan resiko penggumpalan darah pada
katup atau daerah yang dekat dengan katup. Oleh karena itu untuk mengatasinya
klien harus mengkonsumsi obat anti koagulan seperti warfarin (caumadin) seumur
hidup untuk untuk mencegah penggumpalan darah. Sedangkan penggantian dengan
katup jaringan ini dapat diambil dari babi, sapi atau berasal dari cadaver
manusia. Tipe lainnya menggunakan jaringan katup yang berasal dari katup
pulmonary klien itu sendiri jika dimungkinkan.
2. Valvuloplasty.



Dalam
kasus yang jarang ditemui penggunaan metode valvuloplasty lebih baik untuk
dilakukan daripada penggunaan metode balon valvuloplasty. Seperti pada bayi
yang baru lahir yang mengalami kelainan dimana daun katup aorta menyatu. Dengan
menggunakan cara operasi bedah cardiac pada katup aorta untuk memisahkan daun
katup yang menyatu dan meningkatkan kembali aliran darah yang melewati katup.
Atau cara lain dengan memperbaiki katup yaitu menghilangkan kalsium berlebih
yang terdapat pada daerah sekitar katup.
2.8 Komplikasi
a.
Gagal
jantung
b.
Hipertensi
sisitemik
c.
Nyeri
dada (angina pectoris)
- Sesak nafas
2.9 Prognosis
Survival
rate 10 tahun penderita pasca operasi ganti katup aorta adalah sekitar 60% dan
rata rata 30% katup artifisial bioprotese mengalami gangguan setelah 10 tahun
dan memerlukan operasi ulang.Katup Metal artificial harus dilindungi dengan
antikoagulan untuk mencegah trombus dan embolisasi.Sebanyak 30% penderita ini
akan mengalami komplikasi perdarahan ringan-berat akibat dari terapi
tersebut.Valvuloplasti aorta perkutan dengan balon dapat dilakukan pada
anak atau anak muda dengan stenosis aorta congenital non-kalsifikasi.Pada orang
dewasa dengan kalsifikasi,tindakan ini menimbulkan restenosis yang tinggi
BAB
III
ASUHAN
KEPERAWATAN PADA Tn. G DENGAN STENOSIS AORTA
DI
RS. BAKTI RAHAYU
3.1 Kasus
Tn.G berumur 31 thn, dibawah oleh keluarganya kerumah sakit Bakti Rahayu pada
tangal 20 Oktober 2013 pukul 08.00 wib. Klien masuk dengan keluhan sesak nafas,nyeri di bagian
dada sebelah kiri. Nyeri timbul hilang, nyeri bertambah saat klien menarik
nafas. Nyeri lebih bertambah saat beraktifitas yang berat. Wajah klien tampak
menahan nyeri saat bernafas. Klien juga tanpak lemas. Bibir klien terlihat
kebiruan ( seanosis ) mukosa bibir kelihantan kering, nafsu makan berkurang
sejak klien sakit , berat badan menurun menjadi 2 kg dari 50 kg dalam satu bulan terakhir.
Istri klien mengatakan 2 tahun
yang lalu klien pernah mengalami kecelakaan motor. Saat itu klien tidak
sadarkan diri karna terjadi perdarahan
pada dada sebelah kiri. Berdasarkan hasil pengkajian didapatkan data :
a. TD 130/80 MmHg
b. Nadi 130x/mnt irama y ireguler dan kuat
c. Suhu 37,5°C
d. RR 28x/mnt cepat dan dangkal pada saat ekspirasi dari inspirasi
e. Skala Nyeri 7
f. Terdengar suara hipersonor
g. Dari hasil AGD menunjukan ph 7,30 MmHg
PCO2 = 35 – 45mmHg, PO2 = 6,5 mmHg
3.2 Pengkajian
3.2.1 Biodata
a. Nama :
Tn. G
b. Agama :
Islam
c. Pendidikan : SMA
d. Pekerjaan :
Buruh
e. Status pernikahan : Menikah
f. Alamat :
jln. Boe no.11 Depok. Sleman
g. Dx. Medis :
Stenosis Aorta
Penanggung jawab
a. Nama :
Ny. B
b. Agama :
Islam
c. Pendidikan : SMA
d. Pekerjaan : Ibu
rumah tangga
e. Status pernikahan : Menikah
f. Alamat :
Jln. Boe no.11 Depok. Sleman
g. Hub. Dengan klien : Istri
klien
3.2.2
Keluhan Utama
Klien mengeluh nyeri dibagian dada sebelah kiri.
3.2.3 Riwayat
kesehatan
a. Riwayat kesehatan sekarang
Tn.G berumur 31 thn, dibawah oleh keluarganya kerumah sakit Bakti Rahayu pada
tangal 20 Oktober pukul 08.00 wib. Klien masuk dengan keluhan sesak nafas,nyeri di bagian
dada sebelah kiri. Nyeri timbul hilang, nyeri bertambah saat klien menarik
nafas. Nyeri lebih bertambah saat beraktifitas yang berat. Wajah klien tampak
menahan nyeri saat bernafas. Klien juga tanpak lemas. Bibir klien terlihat
kebiruan ( seanosis ) mukosa bibir kelihan kering, nafsu makan berkurang sejak
klien sakit , berat badan 50 kg. Istri klien mengatakan 2 tahun
yang lalu klien pernah mengalami kecelakaan motor.
b.Riwayat penyakit dahulu.
Klien tidak pernah mengalami
sakit yang serius, hanya sering batuk filek, panas dingin dan hilang dalam
beberapa hari. Klien juga memiliki kebiasaan merokok sejak kelas 1 SMA,
kebiasaan minum kopi setiap pagi dan sore.
c.Riwayat penyakit keluarga
Belum pernah ada anggota keluarga
yang menderita penyakit serupa sebelumnya.
d.Basic promoting phyologi of health.
1.
Aktifitas dan
latihan
Klien bekerja sebagai petani disawah. Klien tidak pernah berolah raga,
karna sebagian besar waktunya dihabiskan disawah. Klien tidak pernah menggunakn alat bantu seperti kursi roda, maupun tongkat. Kemampuan klien
aktif ADL dilakukan secara mandiri.
2.
Tidur dan
Istirahat
Klien tidur sehari 6-8 jam, klien tidak terlalu biasa tidur siang, klien
tidak pernah mengalami gangguan tidur sebelum sakit, namun saat sakit ini klien
sering terbangun karena nyeri dada sebelah kiri, nyeri hilang timbul, lebih
nyeri saat beraktifitas yang berat.
3.
Kenyamanan dan
Nyeri
Klien hanya mengalami nyeri dada sebelah kiri saat beraktivitas.
P : Provokatus ( apa yang menyebabkan
gejala ? )
nyeri terjadi saat beraktivitas dan hilang saat beristirahat.
Q : Quality (
bagaimana gejalan yang di rasakan )
nyeri hilang
timbul
R : Regian (
Dimana gejala yang dirasakan ? )
dada sebelah
kiri
S : Scala (
Seberapakah tingkat keparahan yang dirasakan ? )
skala nyeri 7
T : Time (
seberapa lama gejala yang dirasakan ? )
1-3 menit
4. Nutrisi
Klien makan 3x
sehari, berat badan klien 50 kg, tinggi badan 150 cm, IMT klien 22, BBR klien 45, selama sakit tidak ada penurunan terhadap berat badan. Klien
tidak memiliki makanan kesukaan dan tidak memiliki pantangan terhadap makanan
apapun.klien tidak memiliki masalah pencernaan seperti: mual, munta, ataupun
kesulitan menelan, kebutuhan pemenuhan ADL makan klien dilakukan secara
mandiri.
5. Cairan, elektrolit, asam basa.
Klien sehari-hari dapat menghabiskan air 1,5 L,turgor kulit nanpak elastis,
tanpak adanya seanosis pada kulit bagian ekstermitas. IWL 750 cc/hari,
sedangkan BC klien +150 cc.
6.
Oksigenasi
Klien mengeluh sesak nafas, RR 28x/mnt, nafasnya cepat dangkal dan pendek.
Klien terpasang selang O2, ( 2-4 L ) dengan menggunakan kanul.
7.
Eliminasi
fekal/bowel
Klien melakukan eliminasi fekal/bowel 1x sehari tanpak menggunakan
pencahar, dan eliminasi dilakukan setiap pagi, berwarna kuning dengan
konsistensi lembek. Klien tidak memiliki gangguan eliminasi seperti diare,
konstipasi, atau inkontinensia bowel. Pemenuhan kebutuhan bowel klien dilakukan
secara mandiri.
8. Eliminasi urin
Klien dapat melakukan miksi 6-8x/ hari, pengeluaran urin 600cc/hari warna
kuning. Klien tidak memiliki gangguan eliminasi urin seperti nyeri saat BAK,
burning sentation, atau inkontinensia bladder, kebutuhan pemenuhan ADL ini
dilakukan secara mandiri.
9. Pemeriksaan fisik
a.
Keadaan umum
Kesadran klien compos mentis, dengan GCS 15(eye 4, verbal 5, motorik 6), TD
130/80 MmHg, Nadi 130x/mnt, dengan irama ireguler cepat dan dangkal, Suhu
37,5°C, RR 28x/mnt.
b. Kepala
Nampak simestris, rambut nampak bersih, tidak kotor, konjungtipa tidak anemis
maupun hiperemis, scera normal konjungtiva berwarna merah mudah, tidak nanpak
ikterik, pupil isokor, palpebra normal, tidak adanya edema, lensa normal, tidak
nanpak adanya kekeruan pada lensa, hidung klien nanpak normal, tidak septum
defiasi, efitaksis, telingga simestris.
c.
Leher
Leher terlihat normal, tidak terlihat adanya kakikuduk, pembesaran JVP,
tenggorokan normal, tidak ada pembesaran tonsil, nyeri telan.
d.
Dada
1) Paru-paru:
Inspeksi : bentuk dada normal tidak terlihat adanya barel chest, funnel, atau
pidgoen, tanpak pengembangan paru tidak maksimal, terdapat penggunaan otot
bantu: pernafasan. Saat dipalpasi
premitus kanan dan kiri sama, saat diauskultasi terdengar adanya suara wising
saat perkusi terdengar adanya bunyi hipersonor.
2) Jantung :
Inspeksi : saat diperhatikan daerah apeks kordis, dan iktus kordis tidak
nanpak
Palpasi : saat dipalpasi iktus kordis terdapat pada ICS ke 5 medial dari
garis mid klapikula.
Perkusi: saat diperkusi terdengar bunyi dullness
Auskultasi : Saat diauskultasi pada daerah ICS ke2 dekat sternum didengar
suara S1, dan terdengar suara jantung S2 didaerah ICS ke4 dan ke5 linea
midklavikula.
e.
Abdomen
Abdomen nampak flat, saat dia auskultasi terdengar bising usus dan
peristaltik ,5-35x/mnt saat dipalpasi
tidak ditemukan adanya pembesaran hepar, atau splenomegali saat diperkusi
terdengar suara tympani.
f.
Genetalia
Pada alat kelamin tidak terdapat
lesi
g. Rectum
Rectum normal, tidak ada hemoroid, tumor.
h. Extremitas
Kekuatan otot atas , bawah, kanan, kiri, didapatkan hasil kekuatan otot 5,
ROM aktif, dan capillari refil 2 detik.
10. Pemeriksaan penunjang
Dari hasil AGD menunjukan ph 7,30 MmHg
PCO2 = 34-45 mmHg, PO2 = 6,5 mmHg, interprestasiadalah asidosis
respiratorik.
a.
Terapyh obat
1)
Nitrogliserin
Oral ( sublingual ) diberika bila ada angina
2)
Diuretik dan
Digitalis diberikan bila ada tanda gagal jantung
3)
Statin
dianjurkan untuk mencegah kalsifikasi
daun katup aorta
4)
Antikoagulan,
pada pasien menggunakan katup mekanik penggunaan antikoagulan eumur hidup, sedangkan pada katup bioprostetik
penggunaan antikoagulan selama fase awal saja biasanya selama 5 hari. Sementara untuk preventif penggunaan
Heparin 3-4 bulan.
5)
Antibiotik
digunakan untuk profilaksis diantaranya amoxilin, eritromicin, ampicilin, gentamizin, dan vancomicyn.
6)
Diet rendah
garam
7)
Hindari
aktivitas berat seperti mengangkat beban berat dan lari.
3.3 Analisa Data
Nama : Tn. G No. Register : 295 58 85
Umur : 31 thn Dx. Medis : Stenosis Aourta
Ruang Rawat : Mawar Alamat : Jln.Boe no.11 depok sleman
Hari/tanggal
|
Data Fokus
|
Problem
|
Etiologi
|
|||||||||
20 Oktober 2013
|
DS: Klien mengalami
sesak nafas dan nyeri dada disebelah kiri, Nyeri timbul hilang, nyeri lebih
bertambah saat beraktifitas yang berat.
DO : Wajah klien tanpak menahan nyeri, Skala nyeri 7,
TD 130/80 MmHg, Nadi 130x/mnt irama y ireguler dan kuat, RR 14x/mnt cepat dan dangkal
pada saat ekspirasi dari inspirasi.
|
Nyeri Akut
|
Pembesaran
Ventrikel Sinistra
Injuri
Nyeri
|
|||||||||
20
Oktober 2013
|
DS:
b. Bibir klien terlihat kebiruan ( seanosis )
c. mukosa bibir kelihantan kering.
d. Nafsu makan
berkurang sejak klien sakit.
DO
:
e. ph, 7,30 MmHg
f. PO2 = 6,5 mmHg.
g. RR 14x/mnt.
h. Nadi 130x/mnt.
|
Intoleransi aktivitas
|
Seanosis
Gangguan
Aktifitas
|
|||||||||
20
Oktober 2013
|
DS : Klien mengeluh sesak nafas.
DO :
i. Nafas pendek
j. Klien tanpak lemah
k. Dipsnea
l. Ekspirasi memanjang
m.RR 14x/mnt
n. Nadi 130x/mnt.
|
Pola nafas tidak efektif
|
Hipoventilasi
Pola
nafas tidak efektif
|
patway
3.5 Diagnosa Keperawatan
1.
Pola
nafas tidak efektif berhubungan dengan Hipoventilasi.
2.
Nyeri akut
berhubungan dengan agen injuri biologis.
3.
Intoleransi Aktifitas berhubungan dengan seanosis
3.6 Rencana Tindakan
Nama :Tn. G
No. Register : 295 58 85
Umur :31 Dx.
Medis : Stenosi Auorta
Ruang
:Mawar Alamat : Jln.Boe No.11 Depok.Sleman
NO
|
Dx
Keperawatan
|
Tujuan
|
Kriteria
Hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Pola
nafas tidak efektif b.d hipoventilasi
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan kepada Tn. G selama 1 x 24 jam untuk mengatasi
pola nafas tidak efektif masalah klien teratasi
|
a. Klien
tidak mengeluh sesak nafas lagi.
|
1. Kaji
frekuensi kedalaman dan ekspansi dada, catat upaya pernagasan termasuk
penggunaan otot bantu pernafasan
|
1. Kecepatan
pernafasan biasanya meningkat dyspnea dan terjadi peningkatan kerja nafas
|
b. Menunjukan
pola nafas yang efektif dengan frekuensi dan kedalaman dalam rentang normal
|
2. Auskultasi
bunyi nafas
|
2. Bunyi
nafas tidak ada / menurun bila jalan nafas obstruksi sekunder terhadap
perdarahan, bekuan, kolabs jalan nafas.
|
|||
c. RR
dalam rentang normal (16 – 24 x/menit)
|
3. Tinggikan
kepala dan bantu mengubah posisi klien
|
3. Duduk
tinggi memungkinkan ekspansi paru dan memudahkan jalan nafas.
|
|||
d. Tidak
tampak adanya pernafasan cuping hidung dan penggunaan obat bantu pernafasan
|
4. Kolaborasi
untuk pemberian oksigen
|
4. Memaksimalkan
bernafas dan menurunkan kerja nafas.
|
|||
2.
|
Nyeri
akut berhubungan dengan agen injuri biologis
|
Setelah
dilakukan tindakan keperawatan terhadap Tn. G selama 2 x 24 jam, klien tampak
rileks
|
a. Nyeri
dada sebelah kiri berkurang
|
1. Kaji
TTV klien ( nadi, RR )
|
1. TTV
akan menunjukan keadaan umum klien.
|
b. Skala
nyeri menurun menjadi 1 – 3
|
2. Kaji
PQRST
|
2. Hasil
pengkajian dapat digunakan dalam penentuan terapi, pengontrolan, dan
toleransi nyeri.
|
|||
c. Nadi
normal 60 – 100 x/ menit
|
3. Berikan
posisi yang nyaman
|
3. Meningkatkan
rasa nyaman pada saat istirahat
|
|||
d. RR
normal 16 – 24x/ menit
|
4. Anjurkan
tehnik relaksasi
|
4. Relaksasi
membantu mengurangi nyeri
|
|||
5. Kolaborasi
dengan dokter untuk pemberian obat anlgesik
|
5. Mengurangi
nyeri sehingga klien bisa istirahat dengan cukup
|
||||
3.
|
Intoleransi
aktifitas berhubungan dengan suplai O2 menurun
|
Setelah
dilakukan tindakan selama 1 x 24 jam untuk mengatasi masalah suplai O2
menurun dapat teratasi dengan tuntas.
|
a. Klien
tampak tidak lelah lagi
|
1. Kaji
TTV Klien
|
1. Mengetahui
keadaan umum klien.
|
b. Nafsu
makan bertambah
|
2. Anjurkan
makan dengan teratur
|
2. Menurangi
resiko bertambahnya asam lambung
|
|||
c. Seanosis
hilang
|
3. Anjurkan
posisi tendelenburg
|
3. Darah
akan menuju otak dan dapat peredaran darah kembali normal
|
3.7
Catatan Perkembangan
Nama :Tn.G No.Register : 295 58 85
Umur :
31 thn Dx.medis
: Stenosis Aorta
Ruang Rawat :
Mawar Alamat : Jln.Boe no.11 Depok.sleman
No
|
Tanggal
|
Jam
|
Implementasi
|
Hasil
|
Evaluasi
|
Nama/TTd
|
1.
|
20 oktober 2013
|
08.00 wib
08.10 wib
08.20 wib
08.30 wib
8.40 wib
|
1. Mengkaji
frekuensi kedalaman dan ekspansi dada, catat upaya pernafasan termasuk
penggunaan otot bantu pernafasan.
2.Mengauskultasikan
bunyi nafas dan catat addanya bunyi tambahan seperti krekles, mengi,
whezzing..
3. Meninggikan
kepala dan membantu posisi.
4.
mengkolaborrasikan.
5.Berkolaborasi
dengan dokter untuk pemberian obat analgesic.
|
S: Klien masih
mengelu sesak
O: ekspansi dada
tidak maksimal, adanya penggunaan otot bantu pernafasan, cuping hidung tidak
Nampak.
S: --------
O: wheezing masih.
S: respon klien
mengatakan nyaman dengan posisi kepala di tinggikan.
O: klien terlihat nyaman.
S: -------
O: klien sudah tidur.
S: -------
O: klien merasa nyaman. |
20 oktober 2013
13.00 wib
S: klien masih
mengeluh sesak, nyaman pada posisi kepala di tinggikan.
O: suara weezing
terdengar saat auskultasi, RR terdengar 26X/mnit, penggunaan otot bantu
pernafasaan mulai tidak terlalu Nampak.
Pernafasan cuping
hidung pun tidak Nampak.
A: Tujuan belum tercapai.
P: lanjutan
intervensi 2,3,4
|
Kelompok 3
|
2
|
20 oktober 2013
|
08.00 wib
08.10 wib
08.20wib
08.30 wib
|
1. mengkaji TTV
klien
2. mengkaji PQRST
3. Berikan posisi
yang nyaman
4. menganjurkan
teknik relaksasi lamanya waktu tidur
|
S: -------
O: nadi 130/mnit,
RR 28X/mnit
S: klien
mengatakan nyeri dada sebelah kiri.
O: skala nyeri 7
S: klien susah
tidur saat nyeri timbul.
O: klien tanpak lemah
S: --------
O: klien tanpak
istirahat dengan teratur.
|
20 oktober 2013
13.40 wib
S: klien
mengatakan nyeri pada dada sebelah kiri mulai berkurang.
O: TTV mulai
normal, skala nyeri mulai berkurang 1-3, klien terlihat nyaman saat tidur.
Wajah klien tanpak terlihat tenang.
A: tujuan tercapai sebagian P: lanjutkan intervensi 2 |
|
3
|
20 oktober 2013
|
08.00 wib
08.10 wib
08.20 wib
|
1. Mengkaji TTV
klien.
2. menganjurkan
makan dengan teratur
3. menganjurkan
posisi tendelenburg.
|
S: klien mengeluh
sesak nafas saat aktifitas yang berat.
O: TD: 120/80 MmHg, nadi 100X/mnit, RR 16X/mnit, suhu 37,5 ͦ c.
S: pasien
mengeluh masih belum bisa makan banyak
O: jatah makan klien masih tersisa
S: klien sudah tidak mengeluh pusing dan pucat
lagi
O: sudah tidak nampak seanosis |
20 oktober 2013
13.00
S: Klien mengeluh
nyeri dada saat beraktivitas yang berat.
O: TD 120/80 MmHg, Nadi 100X/mnit, RR 16X/mnit, suhu 37,5 ͦ c
A: Tujuan
tercapai sebagian
P: lanjutkan
intervensi 1 dan 2
|
Kelompok 3
|
BAB
IV
PENUTUP
3.1
Kesimpulan
Aortic stenosis adalah penyempitan
abnormal dari klep (katup) aorta (aortic valve). Sejumlah dari kondisi-kondisi
menyebabkan penyakit yang berakibat pada penyempitan dari klep aorta. Ketika
derajat dari penyempitan menjadi cukup signifikan untuk menghalangi aliran
darah dari bilik kiri ke arteri-arteri, yang mengakibatkan persoalan-persoalan
jantung berkembang.
Penyebab
atau etiologi dari stenosisi ini bisa bermacam-macam. Namun yang paling sering
adalah RHD (Rheumatic Heeart Disease) atau yang biasa kita kenal dengan demam
rematik.
5.2
Saran
Diharapkan
mahasiswa memahami dan menjelaskan kembali tentang konsep dari Stenosis Aorta,
selain itu pula diharapkan Perawat nantinya dapat lebih mudah dalam membuat
asuhan keperawatan, tertuama asuhan keperawatan Stenosis Aorta
DAFTAR PUSTAKA
https://www.google.co.id/#q=laporan+kasus+stenosis+aorta di akses tanggal 11
oktober 2013
http://rahmabola.blogspot.com/p/asuhan-keperawatan-stenosis-aorta.html di akses tanggal
11 Oktober 2013.
www.totalkesehatananda.com/aorticstenosis2.html di akses tanggal
11 oktober 2013.
http://www.klinikherbaldunia.com/pemeriksaan-penunjang-pada-stenosis-aorta di akses tanggal 3
November 2013
Pearce, Evelyn C. 2002. Anatomi dan Fisiologi untuk Paramedis. Jakarta : Gramedia
Muttaqin,
Arif. 2009. Asuhan Keperawatan Klien
dengan Gangguan Sistem Kardiovaskular. Jakarta : Salemba Medika
Lanjutkan menulis :)
BalasHapus