BAB
I
PENDAHULUAN
A.
Latar
Belakang
Kulit merupakan organ terbesar pada
tubuh manusia mebungkus otot-otot dan organ dalam. Kulit berfungsi melindungi
tubuh dari trauma dan merupakan benteng pertahanan terhadap bakteri. Kehilangan
panas dan penyimpanan panas diatur melalui vasodilatasi pembuluh-pembuluh darah
kulit atau sekresi kelenjar keringat. Organ-organ adneksa kulit seperti kuku
dan rambut telah diketahui mempunyai nilai-nilai kosmetik.
Kulit juga merupakan sensasi raba, tekan, suhu, nyeri, dan nikmat berkat jalinan ujung-ujung saraf yang saling bertautan. Secara mikroskopis kulit terdiri dari tiga lapisan: pidermis, dermis, dan lemak subkutan. Epidermis, bagian terluar dari kulit dibagi menjadi dua lapisan utama yaitu stratum korneum dan stratum malfigi. Dermis terletak tepat di bawah pidermis, dan terdiri dari serabut-serabut kolagen, elastin, dan retikulin yang tertanam dalam substansi dasar. Matriks kulit mengandung pembuluh-pembuluh darah dan saraf yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis yang sedang tumbuh. Juga terdapat limfosit, histiosit, dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. Di bawah dermis terdapat lapisan lemak subcutan yang merupakan bantalan untuk kulit,, isolasi untuk pertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan energi.
Kulit juga merupakan sensasi raba, tekan, suhu, nyeri, dan nikmat berkat jalinan ujung-ujung saraf yang saling bertautan. Secara mikroskopis kulit terdiri dari tiga lapisan: pidermis, dermis, dan lemak subkutan. Epidermis, bagian terluar dari kulit dibagi menjadi dua lapisan utama yaitu stratum korneum dan stratum malfigi. Dermis terletak tepat di bawah pidermis, dan terdiri dari serabut-serabut kolagen, elastin, dan retikulin yang tertanam dalam substansi dasar. Matriks kulit mengandung pembuluh-pembuluh darah dan saraf yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis yang sedang tumbuh. Juga terdapat limfosit, histiosit, dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. Di bawah dermis terdapat lapisan lemak subcutan yang merupakan bantalan untuk kulit,, isolasi untuk pertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan energi.
Salah satu penyakit kulit yang paling
sering dijumpai yakni Dermatitis yang lebih dikenal sebagai eksim, merupakan
penyakit kulit yang mengalami peradangan. Dermatitis dapat terjadi karena
bermacam sebab dan timbul dalam berbagai jenis, terutama kulit yang kering.
Umumnya enzim dapat menyebabkan pembengkakan, memerah, dan gatal pada kulit.
Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak
menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman
dan amat mengganggu. Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing
memiliki indikasi dan gejala Dermatitis yang muncul dipicu alergen (penyebab
alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada berbeda, antara lain
dermatitis. Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk
membuat makalah yang berjudul “Makalah Asuhan Keperawatan Pada klien dengan
Dermatitis”.
B. Tujuan
1. Tujuan Umum
Mampu untuk memahami konsep penyakit dermatitis dan mampu memahami asuhan keperawatan penyakit dermatitis
2. Tujan Khusus
a) Mampu untuk mengetahui penyebab penyakit dermatitis.
b) Mampu untuk membedakan jenis - jenis penyakit dermatitis
c) Mampu untuk memahami asuhan keperawatan
BAB
II
TINJAUAN
TEORI
A. Anatomi
Fisiologi
Kulit merupakan pelindung tubuh
beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa adalah satu setengah sampai dua meter persegi.
Tebalnya antara 1,5 – 5 mm, bergantung pada letak kulit, umur, jenis kelamin,
suhu, dan keadaan gizi. Kulit paling tipis pada kelopak mata, penis, labium
minor dan bagian medial lengan atas, sedangkan kulit tebal terdapat di telapak
tangan dan kaki, punggung, bahu, dan bokong. ( Evelyn, 2002 )
Selain sebagai pelindung terhadap cedera fisik, kekeringan,
zat kimia, kuman penyakit, dan radiasi, kulit juga berfungsi sebagai pengindra,
pengatur suhu tubuh, dan ikut mengatur peredaran darah. Pengaturan suhu
dimungkinkan oleh adanya jaringan kapiler yang luas di dermis (vasodilatasi dan
vasokonstriksi), serta adanya lemak subkutan dan kelenjar keringat. Keringat
yang menguap di kulit akan melepaskan panas tubuh yang dibawah ke permukaan
oleh kapiler. Berkeringat ini juga menyebabkan tubuh kehilangan air (insesible
water loss), yang dapat mencapai beberapa liter sehari. Faal perasa dan
peraba dijalankan oleh ujung saraf sensoris Vater Paccini, Meissner, Krause, Ruffini
yang terdapat di dermis. ( Evelyn, 2002 )
1. Bagian-bagian
Kulit Manusia
Kulit terbagi atas tiga lapisan
pokok, yaitu epidermis, dermis atau
korium,dan jaringan subkutan atau subkutis.
1.1
Epidermis
Epidermis
terbagi atas lima lapisan, yaitu :
a.
Lapisan
tanduk atau stratum korneum yaitu lapisan kulit yang paling luar yang
terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti dan
protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk).
b.
Stratum
Lusidum yaitu
lapisan sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma berubah menjadi eleidin
(protein). Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki.
c.
Lapisan
granular atau stratum granulosum yaitu 2 atau 3 lapisan sel gepeng
dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Mukosa
biasanya tidak memiliki lapisan ini. Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki.
d.
Lapisan
malpighi atau stratum spinosum. Nama lainnya adalah pickle cell layer
(lapisan akanta). Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk poligonal dengan
besar berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasma jernih karena
mengandung banyak glikogen dan inti terletak ditengah-tengah. Makin dekat
letaknya ke permukaan bentuk sel semakin gepeng. Diantara sel terdapat jembatan
antar sel (intercellular bridges) terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau
keratin. Penebalan antar jembatan membentuk penebalan bulat kecil disebut nodus
bizzozero. Diantara sel juga terdapat sel langerhans.
e.
Lapisan
basal atau stratum germinativium. Terdiri dari sel berbentuk kubus
tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal, berbaris seperti pagar
(palisade),mengadakan mitosis dari berbagai fungsi reproduktif dan terdiri dari
: 1). Sel berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan
besar, dihubungkan satu dengan yang lain dengan jembatan antar sel.
2).
Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel berwarna muda
dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butiran pigmen (melanosomes).
( Evelyn, 2002 )
1.2
Dermis
Dermis atau korium merupakan lapisan bawah epidermis dan
diatas jaringan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisan atas
terjalin rapat ( pars papilaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih
longgar ( pars particularis ). Lapisan pasr particularis mengandung pembuluh
darah, saraf, rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus. ( Evelyn, 2002 )
1.3
Jaringan
Subkutan (Subkutis atau Hipodermis)
Jaringan subkutan merupakan lapisan
yang langsung dibawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis
tidak tegas. Sel sel yang terbanyak adalah
liposit yang menghasilkan banyak lemak. Jaringan
subkutan mengandung saraf, pembuluh darah dan
limfe, kandungan rambut dan di lapisan atas
jaringan subkutan terdapat kelenjar keringan. Fungsi dari jaringan subkutan
adalah penyekat panas, bantalan terhadap trauma dan tempat
penumpukan energi. ( Evelyn, 2002 )
2
Fisiologi Kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi
yaitu sebagai berikut :
a.
Pelindung
atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi
jaringan- jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh-
pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit
ari diselubungi dengan lapisan tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air.
Kulit dapat menahan suhu tubuh,menahan,luka-luka kecil, mencegah zat kimia
dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau rangsang-rangsang
fisik seperti sinar ultraviolet
dari matahari. ( Evelyn, 2002 )
b.
Penerima
rangsang
Kulit sangat peka
terhadap berbagai rangsang
sensorik yang berhubungan dengan sakit, suhu panas atau
dingin, tekanan, rabaan, dan getaran. Kulit sebagai alat perasa
dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi. ( Evelyn, 2002 )
c.
Pengatur
panas atau thermoregulasi
Kulit mengatur suhu tubuh melalui
dilatasi dan konstruksi pembuluh kapiler
serta melalui respirasi yang
keduanya dipengaruhi saraf otonom. Tubuh yang
sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit atau
sekitar 36,50C. Ketika terjadi
perubahan pada suhu luar, darah dan
kelenjar keringat kulit mengadakan penyesuaian
seperlunya dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah salah
satu fungsi kulit sebagai organ antara
tubuh dan lingkungan. Panas akan hilang dengan penguapan
keringat. ( Evelyn, 2002 )
d.
Pengeluaran
(ekskresi)
Kulit
mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar keringat
yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan
zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan
melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai
pembentukan keringat yang tidak disadari. ( Evelyn, 2002 )
e.
Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak. (
Evelyn, 2002 )
f.
Penyerapan
terbatas
Kulit dapat menyerap zat-zat
tertentu, terutama zat-zat yang larut dalam
lemak dapat diserap ke dalam kulit.
Hormon yang terdapat pada krim muka dapat masuk melalui kulit
dan mempengaruhi lapisan kulit pada tingkatan yang
sangat tipis. Penyerapan terjadi melalui muara
kandung rambut dan masuk ke dalam
saluran kelenjar palit, merembes melalui dinding pembuluh
darah ke dalam peredaran darah kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya. (
Evelyn, 2002 )
g.
Penunjang
penampilan
Fungsi yang terkait dengan
kecantikan yaitu keadaan kulit
yang tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan
Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti
kulit memerah, pucat maupun konstraksi otot penegak rambut. ( Evelyn, 2002 )
B. Definisi
Dermatitis adalah peradangan kulit
epidermis dan dermis sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen atau
faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berubah eflo-resensi polimorfik
(eritema, edema, papul, vesikel, skuama, dan keluhan gatal). (Adhi
Juanda,2005)
Dermatitis adalah radang kulit yang
disebabkan oleh banyak faktor seperti sengatan sinar matahari, gigitan nyamuk,
infeksi bakteri, jamur, dan bahan-bahan kimia.
Dermatitis muncul dalam beberapa
jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala
berbeda:
1.
Contact
Dermatitis
Dermatitis kontak adalah dermatitis
yang disebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit. (Adhi
Djuanda,2005)
Dermatitis yang muncul dipicu
alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada tanaman
merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah dan gatal.
Jika memburuk, penderita akan mengalami bentol-bentol yang
meradang. Disebabkan kontak langsung dengan salah satu penyebab iritasi
pada kulit atau alergi. Contohnya sabun cuci/detergen, sabun mandi atau
pembersih lantai. Alergennya bisa berupa karet, logam, perhiasan, parfum,
kosmetik atau rumput.
2. Neuro Dermatitis
Peradangan
kulit kronis, gatal, sirkumstrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit
tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat
garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai ransangan
pruritogenik. (Adhi Djuanda,2005)
Timbul karena goresan pada kulit
secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat berdiameter sekitar 2,5
sampai 25 cm. Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat yang kita
kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk menggaruk
bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan kaki, pergelangan
tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
3. Seborrheic Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin,
melepuhnya sisi-sisi dari hidung, antara kedua alis, belakang telinga serta
dada bagian atas. Dermatitis ini seringkali diakibatkan faktor keturunan,
muncul saat kondisi mental dalam keadaan stres atau orang yang menderita
penyakit saraf seperti Parkinson.
4. Stasis Dermatitis
Merupakan dermatitis sekunder akibat
insufisiensi kronik vena(atau hipertensi vena) tungkai bawah. (Adhi
Djuanda,2005). Yang muncul dengan adanya varises, menyebabkan pergelangan
kaki dan tulang kering berubah warna menjadi memerah atau coklat, menebal dan
gatal. Dermatitis muncul ketika adanya akumulasi cairan di bawah jaringan
kulit. Varises dan kondisi kronis lain pada kaki juga menjadi penyebab.
5. Atopic Dermatitis
Merupakan keadaan peradangan kulit
kronis dan resitif, disertai gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi
dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan
riwayat atopi pada keluarga atau penderita (D.A, rinitis alergik, atau asma
bronkial). Kelainan kulit berupa papul gatal yang kemudian mengalami ekskoriasi
dan likenifikasi, distribusinya dilipatan (fleksural). (Adhi Djuanda,2005)
Dengan indikasi dan gejala antara
lain gatal-gatal, kulit menebal, dan pecah-pecah. Seringkali muncul di lipatan
siku atau belakang lutut. Dermatitis biasanya muncul saat alergi dan seringkali
muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga memiliki asma. Biasanya
dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang tingkat
keparahannya selama masa kecil dan dewasa. (ros/Detikhealth).
C. Etiologi
Penyebab dermatitis kadang-kadang
tidak di ketahui. Sebagian besar merupakan respon kulit terhadap agen-agen,
misalnya zat kimia, protein, bakteri dan fungus. Respon tersebut dapat
berhubungan dengan alergi. Alergi adalah perubahan kemampuan tubuh yang di
dapat dan spesifik untuk bereaksi. Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar
(eksogen), misalnya bahan kimia (contoh : detergen,asam, basa, oli, semen),
fisik (sinar dan suhu), mikroorganisme (contohnya : bakteri, jamur) dapat pula
dari dalam (endogen), misalnya dermatitis atopik. (Adhi Djuanda,2005)
Sejumlah kondisi kesehatan, alergi,
faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi dapat menjadi penyebab eksim.
Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda pula. Sering
kali, kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi
infeksi. Jika kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin
mengalami selulit infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit
muncul karena peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi
cairan dan terasa panas saat disentuh dan selulit muncul pada seseorang yang
sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus. (Adhi Djuanda,2005)
D. Manifestasi Klinis
Pada umumnya manifestasi klinis dermatitis adanya
tanda-tanda radang akut terutama pruritus (gatal), kenaikan suhu tubuh,
kemerahan, edema misalnya pada muka (terutama palpebra dan bibir), gangguan
fungsi kulit dan genetalia eksterna.
1. Stadium akut :
kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksudasi
sehingga tampak basah.
2.
Stadium subakut: eritema, edema
berkurang, eksudat mongering menjadi kusta.
3. Stadium kronis :
lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak
awal suatu dermatitis sejak awal memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit
stadium kronis. (Adhi Djuanda,2005)
E. Patofisiologi
1. Dermatitis
Kontak
Dermatitis kontak alergik termasuk
reaksi tipe IV ialah hipersenitivitas tipe lambat. Patogenesisnya melalui dua
fase yaitu fase indukdi (fase sensitisasi) dan fase elisitasi. Fase induksi
ialah saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit mengenal dan
memberikan respon, memerlukan 2-3 minggu. Fase elesitasin ialah saat terjadi
pajanan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbul gejala klinis.
(Adhi Djuanda,2005)
Pada fase induksi, hapten (proten
tak lengkap) berfenetrasi ke dalam kulit dan berikatan dengan protein barier
membentuk anti gen yang lengkap. Anti gen ini ditangkap dan diproses lebih
dahulu oleh magkrofak dan sel Langerhans, kemudian memacu reaksi limfoisit T
yang belum tersensitasi di kulit, sehingga terjadi sensitasi limposit T,
melalui saluran limfe, limfosit yang telah tersensitasi berimigrasi ke darah
parakortikal kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan
berfoliferasi membentuk sel T efektor yang tersensitasi secara spesifik dan sel
memori. Kemudian sel-sel tersebut masuk ke dalam sirkulasi, sebagian kembali ke
kulit dan sistem limfoid, tersebar di seluruh tubuh, menyebabkan keadaan
sensetivitas yang sama di seluruh kulit tubuh.Pada fase elisitasi, terjadi
kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa. Sel efektor yang telah
tersensitisasi mengeluarkan limfokin yang mampu menarik berbagai sel radang
sehingga terjadi gejala klinis. (Adhi Djuanda,2005)
2. Dermatitis
Atopik
Belum diketahui secara pasti.
Histamin dianggap sebagai zat penting yang memberi reaksi dan menyebabkan
pruritus. Histamin menghambat kemotaktis dan emnekan produksi sel T. Sel
mast meningkat pada lesi dermatitis atopi kronis. Sel ini mempunyai kemampuan
melepaskan histamin. Histamin sendiri tidak menyababkan lesi ekzematosa.
Kemungkinan zat tersebut menyebabkan prutisus dan eritema, mungkin karena
gerakan akibat gatal menimbulkan lesi ekzematosa. Pada pasien dermatitis atopik
kapasitas untuk menghasilkan IgE secara berlebihan diturunkan secara genetic (Adhi
Djuanda,2005)
3. Neuro
Dermatitis
Kelainan terdiri dari eritema,
edema, papel, vesikel, bentuk numuler, dengan diameter bervariasi 5 – 40 mm.
Bersifat membasah (oozing), batas relatif jelas, bila kering membentuk krusta
bagian tubuh. (Adhi Djuanda,2005)
4. Dermatitis
Statis
Akibat bendungan, tekanan vena makin
meningkat sehingga memanjang dan melebar. Terlihat berkelok-kelok seperti
cacing (varises). Cairan intravaskuler masuk ke jaringan dan terjadilah edema.
Timbul keluhan rasa berat bila lama berdiri dan rasa kesemutan atau seperti
ditusuk-tusuk. Terjadi ekstravasasi eritrosit dan timbul purpura. Bercak-bercak
semula tampak merah berubah menjadi hemosiderin. Akibat garukan menimbulkan
erosi, skuama. Bila berlangsung lama, edema diganti jaringan ikat sehingga
kulit teraba kaku, warna kulit lebih hitam (Adhi Djuanda,2005)
5. Dermatitis
Seiboroika
Merupakan penyakit kronik, residif,
dan gatal. Kelainan berupa skuama kering, basah atau kasar; krusta kekuningan
dengan bentuk dan besar bervariasi. Tempat kulit kepala, alis, daerah
nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak, umbilikus,
lipat bokong, lipat paha dan skrotum. Pada kulit kepala terdapat skuama kering
dikenal sebagai dandruff dan bila basah disebut pytiriasis steatoides ;
disertai kerontokan rambut (Adhi Djuanda,2005)
F.
Faktor Endogen :
Predisposisi genetic, factor alergen |
Faktor Eksogen :
|
Respon Tubuh
( Antibodi ) |
Stimulasi sel – sel mast didalam
jaringan ikat sepanjang venula
|
Respon Ig E pada Sel – Sel Basofi
|
Pelepasan Histamin ↑
|
Gatal
|
Muncul Tanda – Tanda Infeksi
( demam, kemerahan,nyeri, edema ) |
Peradangan Pada Kulit
|
Dermatitis
|
Respon Menggaruk
|
Penampakan Kulit tidak baik
|
Pruritus
|
MK : Gangguan citra tubuh
|
MK : Gangguan Pola Tidur
|
MK : Kerusakan Integritas Kulit
|
Hipersensivitas terhadap protein
asing
|
Peradangan Pada Kulit
|
Timbul Lesi
|
Nyeri
|
Anoreksia
|
MK : Nutrisi kurang dari kebutuhan
|
MK : Gangguan Rasa nyeri
|
Timbul papula, nodule, Bulla
|
MK : Kurang Pengetahuan
|
Kerusakan perlindungan kulit
|
MK : Resiko Infeksi
|
Bahan kimia
( detergen, oli semen ) |
Fisik
( sinar , suhu ) |
Mikroorganisme
(bakteri , jamur )
|
Antibodi tubuh menyerang
|
Panas pada daerah kulit
|
Inflamasi
|
Iritasi pada kulit
|
Paparan sinar langsung ke kulit
|
Respon tubuh tidak menerima
|
Kemerahan pada kulit
|
Pemacuan factor pencetus
|
Tubuh mulai merespon pajanan ulang
|
Timbul kekambuhan pada penyakit
geneticnya
|
Alergi
|
G. Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul menurut Adhi Juanda, 2005
adalah :
1. Kerusakan
integritas kulit
2. Gangguan
Konsep diri
3. Infeksi
sekunder
4. Gangguan rasa nyaman
H. Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus
dermatitis menurut Adhi Juanda, 2005 adalah :
1. Pemeriksaan penunjang :
a.
Percobaan asetikolin
(suntikan dalam intracutan, solusio asetilkolin 1/5000)
b.
Percobaan
histamine hostat disuntikkan pada lesi
2. Laboratorium
a. Darah : Hb, leukosit, trombosit, elektrolit, protein total, albumin,
globulin
b. Urin :
pemeriksaan histopatologi
I.
Penatalaksanaan
Medis dan Perawat
Menurut Adhi Jaunda, 2005 penatalaksanaan medis dan
perawat yang dilakukan pada kasus dermatitis adalah :
1.
Terapi Sistemik : pada dermatitis ringan diberi antihistamin atau kombinasi
antihistamin, antiserotonin, antigraditinin, arit-SRS-A dan pada kasus berat
dipertimbangkan pemberian kortikosteroid.
2.
Terapi
topical : dermatitis akut
diberi kompres bila sub akut cukup diberi bedak kocok bila kronik diberi salep.
3.
Diet : tinggi kalori dan
tinggi protein (TKTP) contoh : daging, susu, ikan, kacamg-kacangan, jeruk,
pisang dan lain-lain.
BAB III
PROSES
ASUHAN KEPERAWATAN
A. Pengkajian
1. Identitas
1.1 Identitas
Klien
Identitas klien terdiri dari nama, usia, alamat, pekerjaan, agama, status.
1.2 Identitas
Penanggung jawab
Identitas penanggung jawab adalah identitas dari seseorang yang bertanggung
jawab atas pasien termasuk dalam hal menanggung biaya. Biasanya terdiri dari
nama, usia, alamat, pekerjaan, agama, status, dan hubungan dengan pasien.
2. Keluhan
Utama
Biasanya pasien mengeluh gatal pada
kulitnya.
3.
Riwayat
Kesehatan:
3.1 Riwayat Penyakit Sekarang : Tanyakan
sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan
apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
3.2 Riwayat Penyakit Dahulu :Apakah
pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya
3.3 Riwayat Penyakit Keluarga :Apakah
ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit
lainnya.
3.4 Riwayat Psikososial :Apakah pasien
merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress
yang berkepanjangan.
3.5 Riwayat Pemakaian Obat :Apakah
pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah
pasien tidak tahan (alergi) terhadap
sesuatu obat.
4.
Pemeriksaan
fisik
4.1 Sistem
pernafasan (B1)
Tidak ada gangguan sistem pernafasan, bunyi nafas
vesikuler, tidak ada wheezing dan ronkhi, irama reguler.
4.2 Sistem
kardiovaskuler (B2)
Tidak adaa gangguan sirkulasi darah irama jantung normal,
tidak ada takikardi dan nadi teraba normal.
4.3 Sistem persyarafan (B3)
Kesadaran composmentis, adanya nyeri tekan pada kulit
yang mengalami lesi.
4.4 Sistem
perkemihan (B4)
BAK normal, warna kuning kekuning-kuningan, bau urine
khas.
4.5 Sistem pencernaan (B5)
Mukosa lembab, nafsu makan baik, BAB normal.
4.6 Sistem muskuloskeletal dan integumen
(B6)
Nyeri tekan pada bagian otot, otot yang mengalami lesi
mengalami penurunan fungsi otot akibat nyeri tekan, warna putih
tidak ikterik tidak ada cyanosis, kulit terlihat agak kering, integritas kulit ditemukan luka bekas garukan
seperti kemerahan timbul bula / pustulla turgor
B.
Diagnosa
Keperawatan
1. Nyeri
berhubungan dengan adanya lesi kulit.
2. Kerusakan
integritas kulit berhubungan dengan inflamasi dermatitis, respon menggaruk.
3. Gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus.
4. Gangguan
citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.
5. Resiko
infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit.
C.
Perencanaan
No.
|
Diagnosa keperawatan
|
Tujuan dan kriteria hasil
|
Intervensi
|
Rasional
|
1.
|
Nyeri b.d adanya lesi kulit
|
Tujuan :
Setelah dilakukan tidakan
keperawatan selama 1x3 jam, diharapkan nyeri berkurang atau teradaptasi
Kriteria hasil :
1.
Pasien
melaporkan nyeri berkurang Nyeri dapat diadaptasi
2.
Dapat
mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
3.
Pasien
tidak gelisah dan skala nyeri 0-1 atau teradaptasi
|
1.
Kaji jenis dan tingkat nyeri pasien.( tentukan apakah nyerinya kronis atau
akut. Selain itu, kaji factor yang dapat mengurangi atau memperberat; lokasi,
durasi, intensitas dan karakteristik nyeri; dan tanda-tanda dan gejala
psikologis. Pengkajian berkelanjutan membantu meyakinkan bahwa penanganan
dapat memenuhi kebutuhan pasien dalam mengurangi nyeri. Dokumentasikan
respons pasien terhadap pertanyaan anda dengan bahasanya sendiri untuk
menghindari interprestasi subjektif)
2.
Minta pasien untuk menggunakan sebuah skala 1 sampai 10 untuk menjelaskan
tingkat nyerinya (dengan nilai 10 menandakan tingkat nyeri paling berat)
3.
Berikan obat yang dianjurkan untuk mengurangi nyeri, bergantung pada gambaran
nyeri pasien. pantau adanya reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat.
Sekitar 30 sampai 40 menit setelah pemberian obat, minta pasien untuk menilai
kembali nyerinya dengan skala 1 sampai 10
4.
Atur periode istirahat tanpa terganggu
5. Bantu pasien untuk mendapat posisi yang nyaman, dan
gunakan bantal untuk membebat atau menyokong daerah yang sakit bila perlu
6.
Pada saat tingkat nyeri pasien tidak terlalu kentara, implementasikan tehnik
mengendalikan nyeri alternatif
|
1.
Dapat
mengetahui kriteria nyeri pasien
2.
Untuk
memfasilitasi pengkajian yang akurat tentang tingkat nyeri pasien
3.
Untuk menentukan
keefektifan obat
4.
Tindakan
ini meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan peningkatan tingkat energy,
yang penting untuk pengurangan nyeri
5.
Untuk
menurunkan ketegangan atau spasme otot dan untuk mendistribusikan kembali
tekanan pada bagian tubuh
6.
Tehnik
nonfarmakologis pengurangan nyeri akan efektif bila nyeri pasien berada pada
tingkat yang dapat ditoleransi
|
2.
|
Kerusakan integritas kulit b.d
inflamasi dermatitis, respon menggaruk
|
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan
keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kerusakan integritas kulit dapat
membaik
Kriteria hasil :
1.
Pasien
menunjukkan tidak adanya kerusakan kulit
2.
Pasien
menunjukkan turgor kulit yang normal
|
1.
Inspeksi kulit pasien setiap pergantian tugas jaga, jelaskan dan
dokumentasikan kondisi kulit dan laporkan perubahan
2.
Lakukan tindakan pendukung, sesuai indikasi
3.
Bantu
pasien dalam melakukan tindakan hygiene dan kenyamanan
4.
Berikan
obat nyeri sesuai program dan pantau keefektifannya
5.
Pertahankan
lingkungan yang nyaman
6.
Gunakan
kasur busa, penyangga, atau peralatan lain, Peringatkan agar tidak menyentuh
luka atau balutan, Atur posisi pasien supaya nyaman dan meminimalkan tekanan
pada penonjolan tulang.
7.
Ubah
posisi pasien minimal setiap 2 jam. Pantau frekuensi pengubahan posisi pasien
dan kondisi kulitnya
8.
Berikan
kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan tentang masalah kulitnya
9.
Berikan
pengarahan pada pasien dan anggota keluarga atau pasangan dalam program perawatan kulit
|
1.Untuk menentukan keefektifan regimen perawatan kulit
2.Untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan
3. Pengurangan nyeri diperlukan untuk mempertahankan
kesehatan
4. Untuk meningkatkan rasa sejahtera pasien
5. Untuk mencegah kerusakan kulit
6. Untuk mencegah kemungkinan infeksi
7. Tindakan tersebut mengurangi tekanan, meningkatkan
sirkulasi dan mencegah kerusakan kulit
8. Tindakan ini membantu mengurangi ansietas dan
meningkatkan ketrampilan koping
9. Untuk mendorong kepatuhan
|
3.
|
Gangguan pola tidur b.d pruritus
|
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam pasien
mencapai pola tidur/istirahat yang memuaskan
Kriteria hasil :
1.
Pasien
mengungkapkan perasaan cukup beristirahat
2.
Pasien
tidak menunjukkan tanda-tanda fisik deprivasi tidur
3.
Menghindari
konsumsi kafein
4.
Mengenali
tindakan untuk meningkatkan tidur
|
1.
Berikan
kesempatan pasien untuk mendiskusikan keluhan yang mungkin menghalangi tidur
2.
Rencanakan
asuhan keperawatan rutin yang memungkinkan pasien tidur tanpa terganggu
3.
Berikan
bantuan tidur kepada pasien, seperti bantal, mandi sebelum tidur, makanan
atau minuman dan bahan bacaan.
4.
Ciptakan
lingkungan tenang yang kondusif untuk tidur
5.
Berikan
pengobatan yang diprogramkan untuk meningkatkan pola tidur normal pasien.
pantau dan catat reaksi yang tidak diharapkan
6.
Minta
pasien untuk setiap pagi menjelaskan kualitas tidur malam sebelumnya
7.
Berikan
pendidikan kesehatan kepada pasien tentang teknik relaksasi seperti imajinasi
terbimbing, relaksasi otot progresif dan meditasi
|
1.
Mendengar aktif dapat membantu menentukan penyebab kesulitan tidur
2.
Tindakan ini memungkinkan asuhan keperawatan yang konsisten dan memberikan
waktu untuk tidur tanpa terganggu
3.
Hygiene pribadi secara rutin dapat mempermudah tidur bagi sejumlah pasien
4.
Tindakan ini dapat mendorong istirahat dan tidur
5.
Agens hipnotik memicu tidur, obat penenang menurunkan ansietas
6.
Tindakan ini membantu mendeteksi adanya gejala perilaku yang berhubungan
dengan tidur
7.
Upaya relaksasi yang bertujuan biasanya dapat membantu meningkatkan tidur
|
4.
|
Gangguan citra tubuh b.d
penampakan kulit yang tidak baik
|
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam pasien
menerima perubahan citra tubuh
Kriteria hasil :
1.
Pasien
berpartisipasi dalam berbagai aspek perawatan dan dalam pemgambilan keputusan
tentang perawatan.
2.
Pasien
menyatakan perasaan positif terhadap dirinya sendiri
3.
Pasien
berpartisipasi dalam program rehabilitasi dan konseling
|
1.
Terima
persepsi diri pasien dan berikan jaminan bahwa ia dapat mengatasi krisis ini
2.
Ketika
membantu pasien yang sedang melakukan perawatan diri, kaji pola koping dan
tingkat harga dirinya
3.
Dorong
pasien melakukan perawatan diri
4.
Berikan
kesempatan kepada pasien untuk menyatakan perasaan tentang citra tubuhnya dan
hospitalisasi.
5.
Bimbing
dan kuatkan focus pasien pada aspek-aspek positif dari penampilannya dan
upayanya dlam menyesuaikan diri dengan perubahan citra tubuhnya
|
1.
Untuk memvalidasi perasaannya
2.
Untuk mendapat nilai dasar pada pengukuran kemajuan psikologisnya
3.
Untuk meningkatkan rasa kemandirian dan control
4.
Agar pasien dapat mengungkapkan keluhannya dan memperbaiki kesalahpahaman
5.
Untuk mendukung adaptasi dan kemajuan yang berkelanjutan
|
5.
|
Resiko infeksi b.d kerusakan
perlindungan kulit
|
Tujuan :
Setelah melakukan tindakan
keperawatan selama 1x24 jam, infeksi dapat dihindari
Kriteria hasil :
1.
Tanda-tanda
vital dalam batas normal.
2.
Tidak
adanya tanda-tanda infeksi
|
Minimalkan resiko infeksi pasien
dengan :
1.
Mencuci
tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan
2.
Mengunakan
sarung tangan untuk mempertahankan asepsis pada saat memberikan perawatan
langsung
3.
Pantau suhu
minimal setiap 4 jam dan catat pada kertas grafik. Laporkan evaluasi segera
4.
Bantu
pasien mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan setelah dari kamar mandi.
5.
Beri
pendidikan kepada pasien mengenai :
a.
Teknik
mencuci tangan yang baik.
b.
Factor-faktor
yang meningkatkan resiko infeksi
c.
Tanda-tanda
dan gejala infeksi
|
1.
Mencuci tangan adalah satu-satunya cara terbaik untuk mencegah penularan
pathogen
2.
Sarung tangan dapat melindungi tangan pada saat memegang luka yang dibalut atau
melakukan berbagai tindakan.
3.
Suhu yang terus meningkat setelah pembedahan dapat merupakan tanda awitan
komplikasi pulmonal, infeksi luka atau dehisens, infeksi saluran kemih atau
tromboflebitis
4.
Mencuci tangan mencegah penyebaran pathogen terhadap objek dan makanan lain
5.
Tindakan tersebut memungkinkan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan
dan membantu pasien memodifikasi gaya hidup untuk mempertahankan tingkat
kesehatan ang optimum
|
BAB IV
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidermis
dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh
faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik (
eritema, edema, papul, vesikel, skuama) dan keluhan gatal. Klasifikasi
Dermatitis adalah dermatitis kontak, dermatitis atopik, dermatitis numularis
dan demertitis soboik. Penyebab dermatitis belum diketahui secara pasti.
Sebagian besar merupakan respon kulit terhadap agen-agen misal nya zat kimia,
bakteri dan fungi selain itu alergi makanan juga bisa menyebabkan dermatitis.
Manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut terutama pruritus
( gatal ), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada muka ( terutama
palpebra dan bibir ), gangguan fungsi kulit dan genitalia eksterna. Pemeriksaan
penunjang dan lab dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa medis maupun
keperawatan, komlikasi yang mungkin muncul pada penatalaksaan medis dan
keperawatan adalah infeksi.
Asuhan keperawatan yang dapat dilakukan mencakup
beberapa diagnosa yaitu Nyeri
berhubungan dengan adanya lesi kulit, kerusakan integritas kulit berhubungan
dengan inflamasi dermatitis, respon menggaruk, gangguan pola tidur berhubungan dengan pruritus,
gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik dan
resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit.
B.
Saran
Dengan adanya makalah mengenai
asuhan keperawatan dermatitis ini, semoga pembaca dapat mengerti tentang
penyakit dermatitis, dan diharapkan mampu untuk membuat asuhan keperawatan
terutama mengenai penyakit dermatitis. Dan mengaplikasikan intervensi yang ada
dengan baik.
DAFTAR
PUSTAKA
http://ichaemilisafis.wordpress.com/2012/11/12/anatomi-fisiologi-kulit/
diakses pada tanggal 12 November 2012
http://www.scribd.com/doc/149610886/Dermatitis-Pathway
diakses pada september 2013
Muttaqin,
Arif dan Kumala Sari. (2011). Asuhan
Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta: Salemba Medika.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar