Selasa, 22 April 2014

Askep Dermatitis



BAB I
PENDAHULUAN

A.      Latar Belakang
Kulit merupakan organ terbesar pada tubuh manusia mebungkus otot-otot dan organ dalam. Kulit berfungsi melindungi tubuh dari trauma dan merupakan benteng pertahanan terhadap bakteri. Kehilangan panas dan penyimpanan panas diatur melalui vasodilatasi pembuluh-pembuluh darah kulit atau sekresi kelenjar keringat. Organ-organ adneksa kulit seperti kuku dan rambut telah diketahui mempunyai nilai-nilai kosmetik.
Kulit juga merupakan sensasi raba, tekan, suhu, nyeri, dan nikmat berkat jalinan ujung-ujung saraf yang saling bertautan. Secara mikroskopis kulit terdiri dari tiga lapisan: pidermis, dermis, dan lemak subkutan. Epidermis, bagian terluar dari kulit dibagi menjadi dua lapisan utama yaitu stratum korneum dan stratum malfigi. Dermis terletak tepat di bawah pidermis, dan terdiri dari serabut-serabut kolagen, elastin, dan retikulin yang tertanam dalam substansi dasar. Matriks kulit mengandung pembuluh-pembuluh darah dan saraf yang menyokong dan memberi nutrisi pada epidermis yang sedang tumbuh. Juga terdapat limfosit, histiosit, dan leukosit yang melindungi tubuh dari infeksi dan invasi benda-benda asing. Di bawah dermis terdapat lapisan lemak subcutan yang merupakan bantalan untuk kulit,, isolasi untuk pertahankan suhu tubuh dan tempat penyimpanan energi.

Salah satu penyakit kulit yang paling sering dijumpai yakni Dermatitis yang lebih dikenal sebagai eksim, merupakan penyakit kulit yang mengalami peradangan. Dermatitis dapat terjadi karena bermacam sebab dan timbul dalam berbagai jenis, terutama kulit yang kering. Umumnya enzim dapat menyebabkan pembengkakan, memerah, dan gatal pada kulit. Dermatitis tidak berbahaya, dalam arti tidak membahayakan hidup dan tidak menular. Walaupun demikian, penyakit ini jelas menyebabkan rasa tidak nyaman dan amat mengganggu. Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala Dermatitis yang muncul dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada berbeda, antara lain dermatitis.  Berdasarkan uraian tersebut, maka penulis tertarik untuk membuat makalah yang berjudul “Makalah Asuhan Keperawatan Pada klien dengan Dermatitis”.

B.  Tujuan
1.      Tujuan Umum
Mampu untuk memahami konsep penyakit dermatitis dan mampu memahami asuhan keperawatan penyakit dermatitis
2.      Tujan Khusus
a)      Mampu untuk mengetahui penyebab penyakit dermatitis.
b)      Mampu untuk membedakan jenis - jenis penyakit dermatitis
c)      Mampu untuk memahami asuhan keperawatan
BAB II
TINJAUAN TEORI

A.  Anatomi Fisiologi
Kulit merupakan pelindung tubuh beragam luas dan tebalnya. Luas kulit orang dewasa adalah satu setengah sampai dua meter persegi. Tebalnya antara 1,5 – 5 mm, bergantung pada letak kulit, umur, jenis kelamin, suhu, dan keadaan gizi. Kulit paling tipis pada kelopak mata, penis, labium minor dan bagian medial lengan atas, sedangkan kulit tebal terdapat di telapak tangan dan kaki, punggung, bahu, dan bokong. ( Evelyn, 2002 )
Selain sebagai pelindung terhadap cedera fisik, kekeringan, zat kimia, kuman penyakit, dan radiasi, kulit juga berfungsi sebagai pengindra, pengatur suhu tubuh, dan ikut mengatur peredaran darah. Pengaturan suhu dimungkinkan oleh adanya jaringan kapiler yang luas di dermis (vasodilatasi dan vasokonstriksi), serta adanya lemak subkutan dan kelenjar keringat. Keringat yang menguap di kulit akan melepaskan panas tubuh yang dibawah ke permukaan oleh kapiler. Berkeringat ini juga menyebabkan tubuh kehilangan air (insesible water loss), yang dapat mencapai beberapa liter sehari. Faal perasa dan peraba dijalankan oleh ujung saraf sensoris Vater Paccini, Meissner, Krause, Ruffini yang terdapat di dermis. ( Evelyn, 2002 )
1.    Bagian-bagian Kulit Manusia
Kulit  terbagi  atas  tiga  lapisan  pokok,  yaitu  epidermis,  dermis  atau  korium,dan jaringan  subkutan  atau subkutis.
1.1    Epidermis
Epidermis terbagi atas lima lapisan, yaitu :
a.    Lapisan tanduk atau stratum korneum yaitu lapisan kulit yang paling luar yang terdiri dari beberapa lapis sel gepeng yang mati, tidak berinti dan protoplasmanya telah berubah menjadi keratin (zat tanduk).
b.    Stratum Lusidum yaitu lapisan sel gepeng tanpa inti dengan protoplasma berubah menjadi eleidin (protein). Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki.
c.    Lapisan granular atau stratum granulosum yaitu 2 atau 3 lapisan sel gepeng dengan sitoplasma berbutir kasar dan terdapat inti di antaranya. Mukosa biasanya tidak memiliki lapisan ini. Tampak jelas pada telapak tangan dan kaki.
d.   Lapisan malpighi atau stratum spinosum. Nama lainnya adalah pickle cell layer (lapisan akanta). Terdiri dari beberapa lapis sel berbentuk poligonal dengan besar berbeda-beda karena adanya proses mitosis. Protoplasma jernih karena mengandung banyak glikogen dan inti terletak ditengah-tengah. Makin dekat letaknya ke permukaan bentuk sel semakin gepeng. Diantara sel terdapat jembatan antar sel (intercellular bridges) terdiri dari protoplasma dan tonofibril atau keratin. Penebalan antar jembatan membentuk penebalan bulat kecil disebut nodus bizzozero. Diantara sel juga terdapat sel langerhans.
e.    Lapisan basal atau stratum germinativium. Terdiri dari sel berbentuk kubus tersusun vertikal pada perbatasan dermo-epidermal, berbaris seperti pagar (palisade),mengadakan mitosis dari berbagai fungsi reproduktif dan terdiri dari : 1). Sel berbentuk kolumnar dengan protoplasma basofilik inti lonjong dan besar, dihubungkan satu dengan yang lain dengan jembatan antar sel.
2). Sel pembentuk melanin (melanosit) atau clear cell merupakan sel berwarna muda dengan sitoplasma basofilik dan inti gelap dan mengandung butiran pigmen (melanosomes). ( Evelyn, 2002 ) 
1.2 Dermis
Dermis atau korium merupakan lapisan bawah epidermis dan diatas jaringan subkutan. Dermis terdiri dari jaringan ikat yang dilapisan atas terjalin rapat ( pars papilaris), sedangkan dibagian bawah terjalin lebih longgar ( pars particularis ). Lapisan pasr particularis mengandung pembuluh darah, saraf, rambut, kelenjar keringat dan kelenjar sebaseus. ( Evelyn, 2002 )
1.3    Jaringan Subkutan (Subkutis atau Hipodermis)
Jaringan subkutan merupakan lapisan yang langsung dibawah dermis. Batas antara jaringan subkutan dan dermis  tidak  tegas. Sel sel  yang  terbanyak  adalah  liposit  yang  menghasilkan  banyak  lemak. Jaringan subkutan  mengandung  saraf,  pembuluh  darah  dan  limfe,  kandungan  rambut dan  di  lapisan  atas  jaringan subkutan  terdapat  kelenjar  keringan.  Fungsi  dari  jaringan  subkutan  adalah  penyekat  panas, bantalan terhadap trauma dan tempat penumpukan energi. ( Evelyn, 2002 )
2      Fisiologi Kulit
Kulit mempunyai berbagai fungsi yaitu sebagai berikut :
a.       Pelindung atau proteksi
Epidermis terutama lapisan tanduk berguna untuk menutupi jaringan- jaringan tubuh di sebelah dalam dan melindungi tubuh dari pengaruh- pengaruh luar seperti luka dan serangan kuman. Lapisan paling luar dari kulit ari diselubungi dengan lapisan tipis lemak, yang menjadikan kulit tahan air. Kulit dapat menahan suhu tubuh,menahan,luka-luka kecil, mencegah zat kimia dan bakteri masuk ke dalam tubuh serta menghalau  rangsang-rangsang   fisik   seperti   sinar   ultraviolet   dari matahari. ( Evelyn, 2002 )
b.      Penerima rangsang
Kulit   sangat   peka   terhadap   berbagai   rangsang   sensorik   yang berhubungan dengan sakit, suhu panas atau dingin, tekanan, rabaan, dan getaran.  Kulit sebagai alat  perasa dirasakan melalui ujung-ujung saraf sensasi. ( Evelyn, 2002 )
c.       Pengatur panas atau thermoregulasi
Kulit  mengatur  suhu  tubuh  melalui  dilatasi  dan  konstruksi pembuluh kapiler   serta   melalui   respirasi   yang   keduanya   dipengaruhi   saraf otonom. Tubuh yang sehat memiliki suhu tetap kira-kira 98,6 derajat Farenheit  atau  sekitar  36,50C.  Ketika  terjadi  perubahan  pada  suhu luar,  darah  dan  kelenjar  keringat  kulit  mengadakan  penyesuaian seperlunya dalam fungsinya masing-masing. Pengatur panas adalah salah  satu  fungsi  kulit  sebagai  organ  antara  tubuh  dan  lingkungan. Panas akan hilang dengan penguapan keringat. ( Evelyn, 2002 )

d.      Pengeluaran (ekskresi)
Kulit mengeluarkan zat-zat tertentu yaitu keringat dari kelenjar-kelenjar keringat yang dikeluarkan melalui pori-pori keringat dengan membawa garam, yodium dan zat kimia lainnya. Air yang dikeluarkan melalui kulit tidak saja disalurkan melalui keringat tetapi juga melalui penguapan air transepidermis sebagai pembentukan keringat yang tidak disadari. ( Evelyn, 2002 )
e.       Penyimpanan.
Kulit dapat menyimpan lemak di dalam kelenjar lemak. ( Evelyn, 2002 )
f.       Penyerapan terbatas
Kulit  dapat  menyerap  zat-zat  tertentu,  terutama  zat-zat  yang  larut dalam  lemak  dapat  diserap  ke  dalam  kulit.  Hormon  yang  terdapat pada krim muka dapat masuk melalui kulit dan mempengaruhi lapisan kulit  pada  tingkatan  yang  sangat  tipis.  Penyerapan  terjadi  melalui muara  kandung  rambut  dan  masuk  ke  dalam  saluran  kelenjar  palit, merembes melalui dinding pembuluh darah ke dalam peredaran darah kemudian ke berbagai organ tubuh lainnya. ( Evelyn, 2002 )
g.      Penunjang penampilan
Fungsi  yang  terkait  dengan   kecantikan   yaitu   keadaan   kulit   yang tampak halus, putih dan bersih akan dapat menunjang penampilan Fungsi lain dari kulit yaitu kulit dapat mengekspresikan emosi seseorang seperti kulit memerah, pucat maupun konstraksi otot penegak rambut. ( Evelyn, 2002 )

B.  Definisi
Dermatitis adalah peradangan kulit epidermis dan dermis sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen atau faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berubah eflo-resensi polimorfik (eritema, edema, papul, vesikel, skuama, dan keluhan gatal). (Adhi Juanda,2005)
Dermatitis adalah radang kulit yang disebabkan oleh banyak faktor seperti sengatan sinar matahari, gigitan nyamuk, infeksi bakteri, jamur, dan bahan-bahan kimia.
Dermatitis muncul dalam beberapa jenis, yang masing-masing memiliki indikasi dan gejala berbeda:   
1.      Contact Dermatitis
Dermatitis kontak adalah dermatitis yang disebabkan oleh bahan/substansi yang menempel pada kulit. (Adhi Djuanda,2005)
Dermatitis yang muncul dipicu alergen (penyebab alergi) tertentu seperti racun yang terdapat pada tanaman merambat atau detergen. Indikasi dan gejala antara kulit memerah dan gatal. Jika memburuk, penderita akan mengalami bentol-bentol yang meradang. Disebabkan kontak langsung dengan salah satu penyebab iritasi pada kulit atau alergi. Contohnya sabun cuci/detergen, sabun mandi atau pembersih lantai. Alergennya bisa berupa karet, logam, perhiasan, parfum, kosmetik atau rumput.
2.      Neuro Dermatitis
 Peradangan kulit kronis, gatal, sirkumstrip, ditandai dengan kulit tebal dan garis kulit tampak lebih menonjol (likenifikasi) menyerupai kulit batang kayu, akibat garukan atau gosokan yang berulang-ulang karena berbagai ransangan pruritogenik. (Adhi Djuanda,2005)
Timbul karena goresan pada kulit secara berulang, bisa berwujud kecil, datar dan dapat berdiameter sekitar 2,5 sampai 25 cm. Penyakit ini muncul saat sejumlah pakaian ketat yang kita kenakan menggores kulit sehingga iritasi. Iritasi ini memicu kita untuk menggaruk bagian yang terasa gatal. Biasanya muncul pada pergelangan kaki, pergelangan tangan, lengan dan bagian belakang dari leher.
3.      Seborrheic Dermatitis
Kulit terasa berminyak dan licin, melepuhnya sisi-sisi dari hidung, antara kedua alis, belakang telinga serta dada bagian atas. Dermatitis ini seringkali diakibatkan faktor keturunan, muncul saat kondisi mental dalam keadaan stres atau orang yang menderita penyakit saraf seperti Parkinson.
4.      Stasis Dermatitis
Merupakan dermatitis sekunder akibat insufisiensi kronik vena(atau hipertensi vena) tungkai bawah. (Adhi Djuanda,2005). Yang muncul dengan adanya varises, menyebabkan pergelangan kaki dan tulang kering berubah warna menjadi memerah atau coklat, menebal dan gatal. Dermatitis muncul ketika adanya akumulasi cairan di bawah jaringan kulit. Varises dan kondisi kronis lain pada kaki juga menjadi penyebab.
5.      Atopic Dermatitis
Merupakan keadaan peradangan kulit kronis dan resitif, disertai gatal yang umumnya sering terjadi selama masa bayi dan anak-anak, sering berhubungan dengan peningkatan kadar IgE dalam serum dan riwayat atopi pada keluarga atau penderita (D.A, rinitis alergik, atau asma bronkial). Kelainan kulit berupa papul gatal yang kemudian mengalami ekskoriasi dan likenifikasi, distribusinya dilipatan (fleksural). (Adhi Djuanda,2005)
Dengan indikasi dan gejala antara lain gatal-gatal, kulit menebal, dan pecah-pecah. Seringkali muncul di lipatan siku atau belakang lutut. Dermatitis biasanya muncul saat alergi dan seringkali muncul pada keluarga, yang salah satu anggota keluarga memiliki asma. Biasanya dimulai sejak bayi dan mungkin bisa bertambah atau berkurang tingkat keparahannya selama masa kecil dan dewasa. (ros/Detikhealth).
C.  Etiologi
Penyebab dermatitis kadang-kadang tidak di ketahui. Sebagian besar merupakan respon kulit terhadap agen-agen, misalnya zat kimia, protein, bakteri dan fungus. Respon tersebut dapat berhubungan dengan alergi. Alergi adalah perubahan kemampuan tubuh yang di dapat dan spesifik untuk bereaksi. Penyebab dermatitis dapat berasal dari luar (eksogen), misalnya bahan kimia (contoh : detergen,asam, basa, oli, semen), fisik (sinar dan suhu), mikroorganisme (contohnya : bakteri, jamur) dapat pula dari dalam (endogen), misalnya dermatitis atopik. (Adhi Djuanda,2005)
Sejumlah kondisi kesehatan, alergi, faktor genetik, fisik, stres, dan iritasi dapat menjadi penyebab eksim. Masing-masing jenis eksim, biasanya memiliki penyebab berbeda pula. Sering kali, kulit yang pecah-pecah dan meradang yang disebabkan eksim menjadi infeksi. Jika kulit tangan ada strip merah seperti goresan, kita mungkin mengalami selulit infeksi bakteri yang terjadi di bawah jaringan kulit. Selulit muncul karena peradangan pada kulit yang terlihat bentol-bentol, memerah, berisi cairan dan terasa panas saat disentuh dan selulit muncul pada seseorang yang sistem kekebalan tubuhnya tidak bagus. (Adhi Djuanda,2005)
D.  Manifestasi Klinis
Pada umumnya manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut terutama pruritus (gatal), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada muka (terutama palpebra dan bibir), gangguan fungsi kulit dan genetalia eksterna.
1.    Stadium akut          : kelainan kulit berupa eritema, edema, vesikel atau bula, erosi dan eksudasi sehingga tampak basah.
2.    Stadium subakut: eritema, edema berkurang, eksudat mongering menjadi kusta.
3.    Stadium kronis       : lesi tampak kering, skuama, hiperpigmentasi, papul dan likenefikasi.
Stadium tersebut tidak selalu berurutan, bisa saja sejak awal suatu dermatitis sejak awal memberi gambaran klinis berupa kelainan kulit stadium kronis. (Adhi Djuanda,2005)

E.  Patofisiologi
1.    Dermatitis Kontak
Dermatitis kontak alergik termasuk reaksi tipe IV ialah hipersenitivitas tipe lambat. Patogenesisnya melalui dua fase yaitu fase indukdi (fase sensitisasi) dan fase elisitasi. Fase induksi ialah saat kontak pertama alergen dengan kulit sampai limfosit mengenal dan memberikan respon, memerlukan 2-3 minggu. Fase elesitasin ialah saat terjadi pajanan ulang dengan alergen yang sama atau serupa sampai timbul gejala klinis. (Adhi Djuanda,2005)
Pada fase induksi, hapten (proten tak lengkap) berfenetrasi ke dalam kulit dan berikatan dengan protein barier membentuk anti gen yang lengkap. Anti gen ini ditangkap dan diproses lebih dahulu oleh magkrofak dan sel Langerhans, kemudian memacu reaksi limfoisit T yang belum tersensitasi di kulit, sehingga terjadi sensitasi limposit T, melalui saluran limfe, limfosit yang telah tersensitasi berimigrasi ke darah parakortikal kelenjar getah bening regional untuk berdiferensiasi dan berfoliferasi membentuk sel T efektor yang tersensitasi secara spesifik dan sel memori. Kemudian sel-sel tersebut masuk ke dalam sirkulasi, sebagian kembali ke kulit dan sistem limfoid, tersebar di seluruh tubuh, menyebabkan keadaan sensetivitas yang sama di seluruh kulit tubuh.Pada fase elisitasi, terjadi kontak ulang dengan hapten yang sama atau serupa. Sel efektor yang telah tersensitisasi mengeluarkan limfokin yang mampu menarik berbagai sel radang sehingga terjadi gejala klinis. (Adhi Djuanda,2005)
2.    Dermatitis Atopik
Belum diketahui secara pasti. Histamin dianggap sebagai zat penting yang memberi reaksi dan menyebabkan pruritus. Histamin menghambat kemotaktis dan emnekan produksi sel T.  Sel mast meningkat pada lesi dermatitis atopi kronis. Sel ini mempunyai kemampuan melepaskan histamin. Histamin sendiri tidak menyababkan lesi ekzematosa. Kemungkinan zat tersebut menyebabkan prutisus dan eritema, mungkin karena gerakan akibat gatal menimbulkan lesi ekzematosa. Pada pasien dermatitis atopik kapasitas untuk menghasilkan IgE secara berlebihan diturunkan secara genetic (Adhi Djuanda,2005)
3.    Neuro Dermatitis
Kelainan terdiri dari eritema, edema, papel, vesikel, bentuk numuler, dengan diameter bervariasi 5 – 40 mm. Bersifat membasah (oozing), batas relatif jelas, bila kering membentuk krusta bagian tubuh. (Adhi Djuanda,2005)
4.    Dermatitis Statis
Akibat bendungan, tekanan vena makin meningkat sehingga memanjang dan melebar. Terlihat berkelok-kelok seperti cacing (varises). Cairan intravaskuler masuk ke jaringan dan terjadilah edema. Timbul keluhan rasa berat bila lama berdiri dan rasa kesemutan atau seperti ditusuk-tusuk. Terjadi ekstravasasi eritrosit dan timbul purpura. Bercak-bercak semula tampak merah berubah menjadi hemosiderin. Akibat garukan menimbulkan erosi, skuama. Bila berlangsung lama, edema diganti jaringan ikat sehingga kulit teraba kaku, warna kulit lebih hitam (Adhi Djuanda,2005)
5.    Dermatitis Seiboroika
Merupakan penyakit kronik, residif, dan gatal. Kelainan berupa skuama kering, basah atau kasar; krusta kekuningan dengan bentuk dan besar bervariasi. Tempat kulit kepala, alis, daerah nasolabial belakang telinga, lipatan mammae, presternal, ketiak, umbilikus, lipat bokong, lipat paha dan skrotum. Pada kulit kepala terdapat skuama kering dikenal sebagai dandruff dan bila basah disebut pytiriasis steatoides ; disertai kerontokan rambut (Adhi Djuanda,2005)









F.  
Faktor Endogen :
Predisposisi genetic, factor alergen
Faktor Eksogen :

Pathway
Respon Tubuh
( Antibodi )
Stimulasi sel – sel mast didalam jaringan ikat sepanjang venula
Respon Ig E pada Sel – Sel Basofi
Pelepasan Histamin
Gatal 
Muncul Tanda – Tanda Infeksi
( demam, kemerahan,nyeri, edema )
Peradangan Pada Kulit
Dermatitis
Respon Menggaruk
Penampakan Kulit tidak baik
Pruritus
MK : Gangguan citra tubuh
MK : Gangguan Pola Tidur
MK : Kerusakan Integritas Kulit
Hipersensivitas terhadap protein asing
Peradangan Pada Kulit
Timbul Lesi
Nyeri
Anoreksia
MK : Nutrisi kurang dari kebutuhan
MK : Gangguan Rasa nyeri
Timbul papula, nodule, Bulla
MK : Kurang Pengetahuan
Kerusakan perlindungan kulit
MK : Resiko Infeksi
Bahan kimia
( detergen, oli semen )
Fisik
( sinar , suhu )
Mikroorganisme
(bakteri , jamur )
Antibodi tubuh menyerang
Panas pada daerah kulit
Inflamasi
Iritasi pada kulit
Paparan sinar langsung ke kulit
Respon tubuh tidak menerima
Kemerahan pada kulit
Pemacuan factor pencetus
Tubuh mulai merespon pajanan ulang
Timbul kekambuhan pada penyakit geneticnya
Alergi 
 










































G.      Komplikasi
Komplikasi yang dapat muncul menurut Adhi Juanda, 2005 adalah :
1.      Kerusakan integritas kulit
2.      Gangguan Konsep diri
3.      Infeksi sekunder
4.       Gangguan rasa nyaman
H.      Pemeriksaan Penunjang
Pemeriksaan penunjang yang dilakukan dalam kasus dermatitis menurut Adhi Juanda, 2005 adalah :
1.      Pemeriksaan penunjang          :
a.        Percobaan  asetikolin (suntikan dalam intracutan, solusio asetilkolin 1/5000)
b.      Percobaan histamine hostat disuntikkan pada lesi
2.       Laboratorium
a.       Darah       : Hb, leukosit, trombosit, elektrolit, protein total, albumin, globulin
b.      Urin          : pemeriksaan histopatologi

I.         Penatalaksanaan Medis dan Perawat
Menurut Adhi Jaunda, 2005 penatalaksanaan medis dan perawat yang dilakukan pada kasus dermatitis adalah :
1.         Terapi Sistemik         : pada dermatitis ringan diberi antihistamin atau kombinasi antihistamin, antiserotonin, antigraditinin, arit-SRS-A dan pada kasus berat dipertimbangkan pemberian kortikosteroid.
2.         Terapi topical            : dermatitis akut diberi kompres bila sub akut cukup diberi bedak kocok bila kronik diberi salep.
3.         Diet                           : tinggi kalori dan tinggi protein (TKTP) contoh : daging, susu, ikan, kacamg-kacangan, jeruk, pisang dan lain-lain.


















BAB III
PROSES ASUHAN KEPERAWATAN

A.    Pengkajian
1.      Identitas
1.1  Identitas Klien
Identitas klien terdiri dari nama, usia, alamat, pekerjaan, agama, status.
1.2  Identitas Penanggung jawab
Identitas penanggung jawab adalah identitas dari seseorang yang bertanggung jawab atas pasien termasuk dalam hal menanggung biaya. Biasanya terdiri dari nama, usia, alamat, pekerjaan, agama, status, dan hubungan dengan pasien.
2.      Keluhan Utama
Biasanya pasien mengeluh gatal pada kulitnya.
3.      Riwayat Kesehatan:
3.1  Riwayat Penyakit Sekarang : Tanyakan sejak kapan pasien merasakan keluhan seperti yang ada pada keluhan utama dan tindakan apa saja yang dilakukan pasien untuk menanggulanginya.
3.2  Riwayat Penyakit Dahulu :Apakah pasien dulu pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya
3.3  Riwayat Penyakit Keluarga :Apakah ada keluarga yang pernah menderita penyakit seperti ini atau penyakit kulit lainnya.
3.4  Riwayat Psikososial :Apakah pasien merasakan kecemasan yang berlebihan. Apakah sedang mengalami stress yang berkepanjangan.
3.5  Riwayat Pemakaian Obat :Apakah pasien pernah menggunakan obat-obatan yang dipakai pada kulit, atau pernahkah pasien tidak tahan (alergi) terhadap sesuatu obat.
4.      Pemeriksaan fisik
4.1  Sistem pernafasan (B1)
Tidak ada gangguan sistem pernafasan, bunyi nafas vesikuler, tidak ada wheezing dan ronkhi, irama reguler.
4.2  Sistem kardiovaskuler (B2)
Tidak adaa gangguan sirkulasi darah irama jantung normal, tidak ada takikardi dan nadi teraba normal.
4.3   Sistem persyarafan (B3)
Kesadaran composmentis, adanya nyeri tekan pada kulit yang mengalami lesi.
4.4  Sistem perkemihan (B4)
BAK normal, warna kuning kekuning-kuningan, bau urine khas.
4.5   Sistem pencernaan (B5)
Mukosa lembab, nafsu makan baik, BAB normal.
4.6   Sistem muskuloskeletal dan integumen (B6)
Nyeri tekan pada bagian otot, otot yang mengalami lesi mengalami penurunan fungsi otot akibat nyeri tekan, warna putih tidak ikterik tidak ada cyanosis, kulit terlihat agak kering, integritas kulit ditemukan luka bekas garukan seperti kemerahan timbul bula / pustulla turgor
B.     Diagnosa Keperawatan
1.      Nyeri berhubungan dengan adanya lesi kulit.
2.      Kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi dermatitis, respon menggaruk.
3.      Gangguan  pola tidur berhubungan dengan pruritus.
4.      Gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik.
5.      Resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit.
C.    Perencanaan

No.
Diagnosa keperawatan
Tujuan dan kriteria hasil
Intervensi
Rasional
1.
Nyeri b.d adanya lesi kulit

Tujuan :
Setelah dilakukan tidakan keperawatan selama 1x3 jam, diharapkan nyeri berkurang atau teradaptasi

Kriteria hasil :
1.      Pasien melaporkan nyeri berkurang Nyeri dapat diadaptasi
2.      Dapat mengidentifikasi aktifitas yang meningkatkan atau menurunkan nyeri
3.      Pasien tidak gelisah dan skala nyeri 0-1 atau teradaptasi
1. Kaji jenis dan tingkat nyeri pasien.( tentukan apakah nyerinya kronis atau akut. Selain itu, kaji factor yang dapat mengurangi atau memperberat; lokasi, durasi, intensitas dan karakteristik nyeri; dan tanda-tanda dan gejala psikologis. Pengkajian berkelanjutan membantu meyakinkan bahwa penanganan dapat memenuhi kebutuhan pasien dalam mengurangi nyeri. Dokumentasikan respons pasien terhadap pertanyaan anda dengan bahasanya sendiri untuk menghindari interprestasi subjektif)
2. Minta pasien untuk menggunakan sebuah skala 1 sampai 10 untuk menjelaskan tingkat nyerinya (dengan nilai 10 menandakan tingkat nyeri paling berat)
3. Berikan obat yang dianjurkan untuk mengurangi nyeri, bergantung pada gambaran nyeri pasien. pantau adanya reaksi yang tidak diinginkan terhadap obat. Sekitar 30 sampai 40 menit setelah pemberian obat, minta pasien untuk menilai kembali nyerinya dengan skala 1 sampai 10
4. Atur periode istirahat tanpa terganggu









5. Bantu pasien untuk mendapat posisi yang nyaman, dan gunakan bantal untuk membebat atau menyokong daerah yang sakit bila perlu


6. Pada saat tingkat nyeri pasien tidak terlalu kentara, implementasikan tehnik mengendalikan nyeri alternatif
1.      Dapat mengetahui kriteria nyeri pasien




















2.      Untuk memfasilitasi pengkajian yang akurat tentang tingkat nyeri pasien


3.      Untuk menentukan keefektifan obat










4.      Tindakan ini meningkatkan kesehatan, kesejahteraan, dan peningkatan tingkat energy, yang penting untuk pengurangan nyeri
5.      Untuk menurunkan ketegangan atau spasme otot dan untuk mendistribusikan kembali tekanan pada bagian tubuh
6.      Tehnik nonfarmakologis pengurangan nyeri akan efektif bila nyeri pasien berada pada tingkat yang dapat ditoleransi
2.
Kerusakan integritas kulit b.d inflamasi dermatitis, respon menggaruk
Tujuan :
Setelah dilakukan tindakan keperawatan selama 3x24 jam diharapkan kerusakan integritas kulit dapat membaik
Kriteria hasil :
1.      Pasien menunjukkan tidak adanya kerusakan kulit
2.      Pasien menunjukkan turgor kulit yang normal
1. Inspeksi kulit pasien setiap pergantian tugas jaga, jelaskan dan dokumentasikan kondisi kulit dan laporkan perubahan
2. Lakukan tindakan pendukung, sesuai indikasi
3.  Bantu pasien dalam melakukan tindakan hygiene dan kenyamanan

4.  Berikan obat nyeri sesuai program dan pantau keefektifannya
5.   Pertahankan lingkungan yang nyaman
6.   Gunakan kasur busa, penyangga, atau peralatan lain, Peringatkan agar tidak menyentuh luka atau balutan, Atur posisi pasien supaya nyaman dan meminimalkan tekanan pada penonjolan tulang.
7.   Ubah posisi pasien minimal setiap 2 jam. Pantau frekuensi pengubahan posisi pasien dan kondisi kulitnya

8.   Berikan kesempatan pasien untuk mengungkapkan perasaan tentang masalah kulitnya

9.   Berikan pengarahan pada pasien dan anggota keluarga atau pasangan dalam program  perawatan kulit
1.Untuk menentukan keefektifan regimen perawatan kulit
2.Untuk meningkatkan kenyamanan dan kesejahteraan
3. Pengurangan nyeri diperlukan untuk mempertahankan kesehatan
4. Untuk meningkatkan rasa sejahtera pasien
5. Untuk mencegah kerusakan kulit
6. Untuk mencegah kemungkinan infeksi







7. Tindakan tersebut mengurangi tekanan, meningkatkan sirkulasi dan mencegah kerusakan kulit
8. Tindakan ini membantu mengurangi ansietas dan meningkatkan ketrampilan koping
9. Untuk mendorong kepatuhan
3.
Gangguan pola tidur b.d pruritus
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam pasien mencapai pola tidur/istirahat yang memuaskan
Kriteria hasil :
1.      Pasien mengungkapkan perasaan cukup beristirahat
2.      Pasien tidak menunjukkan tanda-tanda fisik deprivasi tidur
3.      Menghindari konsumsi kafein
4.      Mengenali tindakan untuk meningkatkan tidur




1.      Berikan kesempatan pasien untuk mendiskusikan keluhan yang mungkin menghalangi tidur
2.      Rencanakan asuhan keperawatan rutin yang memungkinkan pasien tidur tanpa terganggu

3.       Berikan bantuan tidur kepada pasien, seperti bantal, mandi sebelum tidur, makanan atau minuman dan bahan bacaan.
4.      Ciptakan lingkungan tenang yang kondusif untuk tidur
5.      Berikan pengobatan yang diprogramkan untuk meningkatkan pola tidur normal pasien. pantau dan catat reaksi yang tidak diharapkan
6.      Minta pasien untuk setiap pagi menjelaskan kualitas tidur malam sebelumnya
7.      Berikan pendidikan kesehatan kepada pasien tentang teknik relaksasi seperti imajinasi terbimbing, relaksasi otot progresif dan meditasi
1. Mendengar aktif dapat membantu menentukan penyebab kesulitan tidur


2. Tindakan ini memungkinkan asuhan keperawatan yang konsisten dan memberikan waktu untuk tidur tanpa terganggu
3. Hygiene pribadi secara rutin dapat mempermudah tidur bagi sejumlah pasien



4. Tindakan ini dapat mendorong istirahat dan tidur


5. Agens hipnotik memicu tidur, obat penenang menurunkan ansietas







6. Tindakan ini membantu mendeteksi adanya gejala perilaku yang berhubungan dengan tidur
7. Upaya relaksasi yang bertujuan biasanya dapat membantu meningkatkan tidur
4.
Gangguan citra tubuh b.d penampakan kulit yang tidak baik
Tujuan :
Dalam waktu 1x24 jam pasien menerima perubahan citra tubuh
Kriteria hasil :
1.      Pasien berpartisipasi dalam berbagai aspek perawatan dan dalam pemgambilan keputusan tentang perawatan.
2.      Pasien menyatakan perasaan positif terhadap dirinya sendiri
3.      Pasien berpartisipasi dalam program rehabilitasi dan konseling
1.    Terima persepsi diri pasien dan berikan jaminan bahwa ia dapat mengatasi krisis ini
2.    Ketika membantu pasien yang sedang melakukan perawatan diri, kaji pola koping dan tingkat harga dirinya
3.    Dorong pasien melakukan perawatan diri

4.    Berikan kesempatan kepada pasien untuk menyatakan perasaan tentang citra tubuhnya dan hospitalisasi.
5.    Bimbing dan kuatkan focus pasien pada aspek-aspek positif dari penampilannya dan upayanya dlam menyesuaikan diri dengan perubahan citra tubuhnya
1. Untuk memvalidasi perasaannya


2. Untuk mendapat nilai dasar pada pengukuran kemajuan psikologisnya
3. Untuk meningkatkan rasa kemandirian dan control
4. Agar pasien dapat mengungkapkan keluhannya dan memperbaiki kesalahpahaman
5. Untuk mendukung adaptasi dan kemajuan yang berkelanjutan
5.
Resiko infeksi b.d kerusakan perlindungan kulit
Tujuan :
Setelah melakukan tindakan keperawatan selama 1x24 jam, infeksi dapat dihindari
Kriteria hasil :
1.        Tanda-tanda vital dalam batas normal.
2.        Tidak adanya tanda-tanda infeksi
Minimalkan resiko infeksi pasien dengan :
1.    Mencuci tangan sebelum dan setelah memberikan perawatan

2.    Mengunakan sarung tangan untuk mempertahankan asepsis pada saat memberikan perawatan langsung

3.    Pantau suhu minimal setiap 4 jam dan catat pada kertas grafik. Laporkan evaluasi segera







4.    Bantu pasien mencuci tangan sebelum dan sesudah makan dan setelah dari kamar mandi.

5.    Beri pendidikan kepada pasien mengenai :
a.       Teknik mencuci tangan yang baik.
b.      Factor-faktor yang meningkatkan resiko infeksi
c.       Tanda-tanda dan gejala infeksi
1. Mencuci tangan adalah satu-satunya cara terbaik untuk mencegah penularan pathogen
2. Sarung tangan dapat melindungi tangan pada saat memegang luka yang dibalut atau melakukan berbagai tindakan.
3. Suhu yang terus meningkat setelah pembedahan dapat merupakan tanda awitan komplikasi pulmonal, infeksi luka atau dehisens, infeksi saluran kemih atau tromboflebitis
4. Mencuci tangan mencegah penyebaran pathogen terhadap objek dan makanan lain
5. Tindakan tersebut memungkinkan pasien untuk berpartisipasi dalam perawatan dan membantu pasien memodifikasi gaya hidup untuk mempertahankan tingkat kesehatan ang optimum




















BAB IV
PENUTUP


A.      Kesimpulan
Dermatitis adalah peradangan kulit ( epidermis dan dermis ) sebagai respon terhadap pengaruh faktor eksogen atau pengaruh faktor endogen, menimbulkan kelainan klinis berupa efloresensi polimorfik ( eritema, edema, papul, vesikel, skuama) dan keluhan gatal. Klasifikasi Dermatitis adalah dermatitis kontak, dermatitis atopik, dermatitis numularis dan demertitis soboik. Penyebab dermatitis belum diketahui secara pasti. Sebagian besar merupakan respon kulit terhadap agen-agen misal nya zat kimia, bakteri dan fungi selain itu alergi makanan juga bisa menyebabkan dermatitis. Manifestasi klinis dermatitis adanya tanda-tanda radang akut terutama pruritus ( gatal ), kenaikan suhu tubuh, kemerahan, edema misalnya pada muka ( terutama palpebra dan bibir ), gangguan fungsi kulit dan genitalia eksterna. Pemeriksaan penunjang dan lab dibutuhkan untuk menegakkan diagnosa medis maupun keperawatan, komlikasi yang mungkin muncul pada penatalaksaan medis dan keperawatan adalah infeksi.
Asuhan keperawatan yang dapat dilakukan mencakup beberapa diagnosa yaitu Nyeri berhubungan dengan adanya lesi kulit, kerusakan integritas kulit berhubungan dengan inflamasi dermatitis, respon menggaruk, gangguan  pola tidur berhubungan dengan pruritus, gangguan citra tubuh berhubungan dengan penampakan kulit yang tidak baik dan resiko infeksi berhubungan dengan kerusakan perlindungan kulit.

B.       Saran
Dengan adanya makalah mengenai asuhan keperawatan dermatitis ini, semoga pembaca dapat mengerti tentang penyakit dermatitis, dan diharapkan mampu untuk membuat asuhan keperawatan terutama mengenai penyakit dermatitis. Dan mengaplikasikan intervensi yang ada dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Muttaqin, Arif dan Kumala Sari. (2011). Asuhan Keperawatan Gangguan Sistem Integumen. Jakarta: Salemba Medika.




Tidak ada komentar:

Posting Komentar